Review Buku: Tan Malaka: Bapak Republik Yang Dilupakan

Buku ini adalah buku pertama tentang Tan Malaka yang saya baca. Dari buku ini, saya sedikit lebih mengenal pejuang kemerdekaan yang misterius ini, sosok yang sempat diharamkan di era Orde Baru karena kedekatannya dengan komunisme–Tan sempat menjabat sebagai ketua PKI dan bergabung dengan Komunis Internasional (Komintern). Buku ini mengajak kita mengikuti perjalanan sejarawan asal Belanda, Harry Poeze, yang mencoba menapaktilasi kehidupan Tan Malaka, dari tanah kelahirannya di Sumatera Barat hingga di berbagai tempat perantauannya.

Tan Malaka ternyata bernama asli Ibrahim. Ia termasuk keturunan pimpinan adat di Sumatera Barat, dan Tan Malaka adalah nama gelar yang diperolehnya ketika mulai memasuki usia dewasa. Meskipun termasuk keturunan pemimpin adat Minang, keluarga Ibrahim bukan keluarga yang berkecukupan. Di bagian awal buku, diceritakan bagaimana Ibra yang berasal dari keluarga sederhana ini bisa mengecap pendidikan hingga ke negeri Belanda. Kemudian, cerita berlanjut dengan menggambarkan kehidupannya dengan segala tantangan yang dilaluinya di negeri Belanda, hingga cerita di balik kepulangannya ke tanah air tanpa sempat membawa gelar pendidikan dari negara kincir angin tersebut.

Ibrahim Tan Malaka diceritakan memilki pemikiran dan konsep tentang ‘Republik Indonesia’ lebih dulu dari bapak bangsa lainnya, setidaknya Soekarno dan Hatta. Tulisan-tulisannya tentang perjuangan kemerdekaan menjadi pegangan Soekarno, Hatta, dan tokoh bangsa lain. Tapi pada masa kemerdekaan sosok Tan misterius dan sulit ditemui karena Tan seringkali harus kucing-kucingan dengan tentara kolonial. Hal itu disebakan karena sepak terjangnya di organisasi Komunis Internasional dianggap ancaman sehingga ia menjadi buronan pemerintah kolonial. Hal itu membuatnya selalu berada dalam penyamaran dan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara Asia lain hingga Eropa.

Kedekatan Tan dengan komunisme sesungguhnya adalah salah satu upaya untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Tan adalah nasionalis sejati yang meyakini komunisme dapat membantu Indonesia melepaskan diri dari belenggu penjajah. Jika komunisme seringkali diidentikkan dengan anti agama, Tan Malaka justru memiliki pemikiran bahwa komunisme di Indonesia harus bergabung dengan Pan Islamisme. Tan menganggap Komunisme dan Pan Islamisme sebagai  racikan yang tepat untuk mewujudkan kemerdekaan bangsanya. Gagasan kolaborasi Komunisme-Pan Islamisme Tan sempat mendapat sambutan baik dari beberapa tokoh Syarekat Islam. Tapi ternyata tak mudah bagi Tan untuk menyatukan dua aliran tersebut.

Selain menceritakan tentang keterlibatan Tan di berbagai gerakan perjuangan kemerdekaan dan organisasi komunis, buku ini juga sedikit menyentuh kehidupan pribadi Tan Malaka. Dalam buku ini diceritakan ada beberapa nama perempuan yang sempat mewarnai hidup Tan Malaka, meski hingga akhir hayatnya, tak sekalipun Tan menikah.
Buku ini juga menceritakan peran dan keterlibatan Tan di seputar masa persiapan kemerdekaan hingga proklamasi, serta  dinamika hubungannya dengan tokoh bangsa lain juga tokoh komunis lain, hingga cerita tragis hidupnya yang berakhir di ujung bedil oleh saudara sebangsanya sendiri.

Idul Adha menurut Pak Quraish Shihab

Makna Korban

Korban dalam bahasa Indonesia ada dua makna, korban bisa jadi disakiti, bisa jadi hatinya atau badannya, dia dikorbankan. Korban juga berarti ketulusan, persembahan, persembahan kepada siapapun, apalagi kepada Allah, tidak bisa kalau tidak disertai dengan ketulusan. Orang yang dikorbankan mestinya menimbulkan rasa sedih di hati kita, tapi kesedihan itu baru muncul kalau hati anda lembut, kalau hatinya keras tidak peduli. Dari sini korban dalam bahasa Indonesia diartikan dengan ketulusan, pengabdian, atau yang disakiti, yang dikorbankan.

Tapi dalam bahasa Al Quran, pengertian korban bukan dalam pengertian yang disakiti, tapi korban lebih banyak diartikan persembahan, qurb itu artinya dekat, kalau sesuatu yang berharga anda persembahkan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah itu kurban. Dalam Idul Adha, memang ada kata yang juga diartikan korban terambil dalam kata adha ini, karena itu tadi, seorang atau sesuatu yang terlukai itu mestinya menimbulkan rasa iba kepadanya dan pada akhirnya anda akan merasakan sakit sebagaimana sakitnya yang dikorbankan, itu pengertian kebahasaan.

Dalam Al Quran, diceritakan bahwa dua anak Adam, Qabil dan Habil mempersembahkan hasil usahanya, yang satu diterima, yang satu tidak. Dijelaskan bahwa yang diterima Allah adalah kurban yang baik kurban yang diberikan Habil, Allah tidak menerima daging korban, tidak juga menerima darah, tapi yang diterimanya adalah ketulusan hati dan ketakwaan yang memberikan.

Berkaitan dengan hati, Rasul menunjuk bahwa takwa itu adanya di hati. Jadi disyariatkannya Idul Adha itu dengan mengorbankan, dengan menyembelih binatang tertentu itu sebenarnya adalah kurban untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, yang diterimaNya itu bukan daging atau darah kurbannya tapi ketulusan hati yang memberikan. Karena itu bisa jadi satu orang mempersembahkan satu kambing, yang lain kerbau yang besar, tapi yang diterima yang memberikan kambing, karena Tuhan tidak lihat besar atau kecilnya, tapi ketulusan hati masing-masing.

 

Keistimewaan Nabi Ibrahim

Dikaitkan dengan Hari Raya Haji, kita dalam Islam merujuk lebih banyak pada nabi Ibrahim daripada pada Adam. Agama-agama samawi: Yahudi, Nasrani, Islam, ajarannya lebih banyak dikaitkan pada nabi Ibrahim, begitu juga kita di Islam, ibadah kurban dan haji lebih banyak dikaitkan pada nabi Ibrahim. Mengapa? Karena nabi Ibrahim punya keistimewaan luar biasa yang tidak dimiliki oleh yang lain. Dalam konteks hari raya qurban, kita baca di Al Quran tentang nabi Ibrahim, nabi Ibrahim dijelaskan dalam Al Quran bahwa beliau itu sering berkata “Ah..”, maksudnya nabi Ibrahim hatinya sangat halus, sangat lembut, sampai-sampai menurut sementara ulama, ada yang berkata, nama Ibrahim itu terambil dalam kata abun rahim, ayah yang sangaat pengasih.

Kita kaitkan qurban dengan kelembutan hati. Nabi Ibrahim itu adalah nabi yang mengumandangkan pada umatnya bahwa Tuhan yang disembah itu adalah Rabul alamin, tuhan sekalian alam, kalau nabi lainnya, memperkenalkan Ttuhan pada masyarakatnya sebagai “Tuhan Kami”, tapi nabi Ibrahim tidak. Keistimewaannya yang kedua, nabi Ibrahim pernah minta ditunjukkan pada Allah bagaimana membangkitkan orang yang sudah mati, keimanan nabi Ibrahim pada hari akhir sangat kuat. Nabi Ibrahim itu juga sangat sayang pada manusia, kalau ada tamu disambutnya luar biasa, dia sembunyi-sembunyi memberi tahu keluarganya untuk membuatkan makanan dan minuman untuk tamu, kenapa sembunyi-sembunyi? Karena kalau tamunya tahu khawatir dilarang untuk memberi jamuan. Kalau ada tamu pulang, dia tidak antar sampai ke pintu, tapi dia antar sampai ke luar, sampai ke perbatasan, sangat hormatnya dia pada tamu.

Karena hormatnya nabi Ibrahim pada sesame itu, Allah membatalkan kebiasaan manusia mengorbankan manusia lain, di jaman dulu ada sebagian orang yang mengorbankan manusia sebagai persembahan pada Tuhan, misalnya mengorbankan gadis cantik setiap tahun, ada juga mengorbankan tokoh agamanya yang paling hebat, ada yang mengorbankan bayi, Allah melarang hal itu. Allah berkata, Oke deh, Ibrahim, sembelih anakmu, lalu patuhlah Ibrahim, tapi Allah kemudian melarangnya, dan ingin menunjukkan bahwa pengorbanan manusia itu terlarang. Untuk itu semua, kita lantas beridul Adha mengikuti nabi Ibrahim sehigga kita diperintahkan untuk menyembelih kambing, domba, sapi, unta, tapi syaratnya harus yang sempurnya, karena kalau anda mau korban jangan setengah-setengah.

 

Hakikat Berkorban

Orang yang berkorban itu tidak berhenti kecuali, tercapai tujuannya atau habis modalnya. Dulu kita waktu berjuang melawan Belanda “Merdeka atau Mati!”,  begitu juga dengan berkorban, jangan setengah-setengah, dan jangan menunggu imbalan, kalau mau menunggu imbalan, tunggu dari Allah jangan menunggu imbalan dari manusia. Itulah nilai-nilai yang harus dihayati oleh semua orang yang beridul Adha.

Ada yang menarik dari manusia, kita kan menyembelih hewan qurban. Agama ini sangat realistis, dia tidak perintahkan untuk mempersembahkan semua bagian dari binatang yang disembelih. Boleh berpikir tentang diri anda, tapi 1/3 untuk anda keluarga, 2/3 dibagi, 2/3 itu 1/3 untuk orang yang butuh, 1/3 untuk orang yang tidak butuh, boleh jadi saudara anda, dalam rangka menjalin hubungan yang lebih harmonis. Itu nilai-nilai dalam berkurban.

Ketika kita bicara idul Adha dan nabi Ibrahim, kita bisa berkata inti yang dikehendaki dari Hari Raya Qurban ini, yang pertama adalah mendidik kita untuk bersedia berkorban. Kita bisa bertanya sekrang, perlukah manusia berkorban? Kenapa kita harus berkorban? Yang pertama, kita manusia adalah satu kesatuan, karena kita tercipta dari unsur yang sama, kita adalah dari kakek yang sama, dari Adam. Jadi manusia itu satu kesatuan, dia harus berjalan seiring untuk mencapai cita-cita kemanusiaan, karena itu Al Quran mengingatkan, siapa yang merusak satu orang, atau melakukan pengerusakan di muka bumi ini, maka dia bagaikan merusak semua orang, karena kita satu kesatuan, kita bersaudara dari keturunan yang sama, dan saudara itu harus kita bantu sebelum dia minta, harus merasakan apa yang dia rasakan.

Kedua, kenapa kita harus berkorban? Kita secara individu orang per orang punya kebutuhan. Saya tidak bisa memenuhi semua kebutuhan saya tanpa anda bantu, begitu juga sebaliknya, kita ini makhluk sosial, tapi kita semua punya ego. Contoh, kita ingin cepat pulang ke rumah, kalau tidak ada yang mau mengalah, bisa tabrakan, jadi saya mau korbankan sedikit atau banyak bukan untuk orang itu, tapi untuk saya, jadi kita harus korbankan. Semakin banyak anda berkorban, semakin lancar lalu lintas. Begitu juga dengan lalu lintas kehidupan, dan korban itulah menyisihkan sebagian dari kepentingan ego untuk orang lain, itulah yang melahirkan akhlak. Boleh jadi anda korban perasaan, saya jengkel sama orang itu, tapi yaudahlah saya tahan. Jadi kepentingan kita mengundang kita untuk berkorban. Jadi dari korban itu yang dinilai Tuhan adalah ketulusan, semakin banyak berkorban dengan ketulusan, semakin tinggi akhlak, semakin sedikit berkorban, semakin sedikit akhlak. Kalau pengorbanan itu sudah tidak ada, akhlak tidak ada, kalau akhlak tidak ada, runtuh masyarkaat. Itu substansinya dari Hari Raya Qurban Kita lihat kurban, kita diminta berkurban demi orang lain, demi masyarakat, yang kembalinya akan kepada kita.

 

Belajar dari Kaum Ad, Tsamud, dan Firaun

Al Quran bercerita, dahulu ada masyarakat Ad, masyarakat Tsamud, dan masyarakat Firaun. Masyarakat Ad itu membangun bangunan yang luar biasa indah, masyarakat Tsamud sangat ahli dalam seni melukis, dan umat firaun itu sangat ahli dalam teknologi, sampai sekarang pembuatan Piramid tidak diketahui. Dalam Al Quran disebutkan:“Tidakkah engkau memperhatikan Tuhanmu memperlakukan kaum Ad, yang membangun bangunan yang tidak ada seperti itu di mana pun? Dan kaum Tsamud yang membelah batu karang dan mengukirnya, dan gunung-gunung untuk menjadi rumah? Dan Firaun dengan piramida-piramida? Mereka melampaui batas dalam kehidupan” Dalam masyarakat mereka, tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau berkorban, misalnya Firaun yang menindas masyarakatnya. Lalu Allah menghancurkan mereka, menumpahkan mereka dengan siksa. Karena itu, satu masyarakat yang tidak ada akhlaknya pasti runtuh, karena tidak ada yang mau mengalah, kalau orang tidak punya akhlak, krisis dijadikan sarana untuk mendapatkan keuntungan. Jadi bukan lagi menyelesaikan problem tapi mencari keuntungan, ketika itu terjadilah yang dinamakan pakar-pakar, “drama sosial”, orang tidak mau menyelesaikan problem, karena kalau diselesaikan dia tidak dapat untung. Itu sebabnya dikatakan bahwa yang lebih penting daripada pembangunan ekonomi dan pembangunan budaya adalah pembangunan akhlak, dan tidak ada pembangunan akhlak kalau tidak bersedia berkorban. Jadi agama mengatakan cobalah momentum hari raya korban ini dijadikan untuk belajar kesediaan berkorban.

 

Mengapa Allah Memerintahkan Ibrahim Menyembelih Ismail?

KenapaAllah menyuruh nabi Ibrahim menyembelih nabi Ismail tidak langsung menyuruhnya menyembelih domba?

Pertama, Allah Maha Mengetahui, tapi Allah inign menunjukan pada manusia betapa hebat seorang manusia bernama Ibrahim ini, diujiNya Ibrahim dengan ujian yang luar biasa beratnya. Anda bisa bayangkan, anak ditunggu sekian lama, istrinya kan mandul, dapat anak, lahir, sudah besar, harapannya tentu jadi penerusnya, tiba-tiba disuruh sembelih dengan tangannya sendiri, itu puncak dari pengorbanan. Dalam konteks haji itu kita tahu, iblis dating menggodanya, yang pertamauntuk menunjukkan tokoh ini memiliki sifat-sifat yang luar biasa.

Kedua, ada orang-orang yan g berpendapat, menyembelih anak sebagai persembahan pada Tuhan ini terlalu mahal, jangan anaklah, yang lebih murah saja dari anak. Allah bermaksud dengan memerintahkan menyembelih Ismail anak Ibrahim untuk membantah mereka yang berkata tadi, bahwa anak yang paling anda cintaipun kalau Allah yang perintahkan anda harus laksanakan. Setelah Ibrahim AS membuktikan kepatuhannya pada Allah, Allah perintahkan jangan, ganti kambing, maksudnya untuk menunjukkan pada umat manusia seluruhnya, bahwa manusia tidak boleh dikorbankan. Jadi ada dua sisi, pertama apapun kalau Allah perintahkan, walaupun anda sangat cintai, tapi kedua Allah ingin mengatakan jangan korbankan manusia. Jadi sebenarnya dalam ajaran berkorban itu berkorbanlah untuk Allah SWT dan berkorbanlah sesempurna mungkin. Ada yang berkata korbankanlah sifat-sifat kebinatangan yang ada di dalam diri anda.

 

Apa makna pengorbanan dalam Islam?  Sementara pengorbanan itu untuk orang lain, kepentingan kita itu ada di mana?

Banyak yang salah paham, jangan pernah menduga ketika anda memberi anda tidak mendapat sesuatu. Jangan menduga kita mengulurkan tangan anda pada orang, hanya tangan dia yang menyentuh tangan anda, tapi tangan anda juga menyentuh tangannya. Orang kalau memberi sesuatu dengan tulus, itu memberi kepuasan yang luar biasa. Ada teman saya, seorang kaya, bercerita, tidak jarang dia memberi uang berjuta-juta pada orang-orang, tapi pernah suatu ketika dia sedang di jalan, ada orang tua miskin di jalan, lalu dia turun dan dia berikan beberapa ratus ribu pada orang itu. Tapi kemudian, dia bilang dia merasa luar biasa lebih bahagia hatinya memberikan uang beberapa ratus ribu pada orang tua itu daripada biasanya memberi puluhan juta pada orang-orang lain selama ini, mungkin juga selama ini memberikan berjuta-juta pada orang-orang memberinya kurang tulus, dan ada maksud lain.

 

Apakah kita mendekatkan diri pada Allah harus dengan penuh penderitaan atau bagaimana?

Jalan ke neraka itu ringan dan mudah, jalan ke surga itu berat. Anda harus bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, tapi sebenarnya, kita lihat lagi, korban itu, kalau orang tulus,..jangan jauh-jauh, ibu kalau punya anak, terus sakit, kepingin nggak anda yang sakit bukan anak anda? Karena tulus, tidak terasa pengorbanannya. Misalnya lagi, saya kehausan, buka kulkas, mau minum, anak saya dating, terengah-engah minta minum, anak saya yang saya kasih minum atau saya? Anak saya..ada kelezatan rohani, orang mungkin melihatnya menderita, tapi kita tidak merasa seperti itu. Itulah kata Freud, manusia itu mendapatkan kelezatan pada saat menekan dorongannya. Kita perlu ingat kita ini bukan cuma jasmani tapi juga rohani.

 

Kesimpulan

Pertama, Idul Adha atau hari Raya Qurban, tujuannya mengingatkan manusia tentang perlunya berkorban, karena manusia, masyarakat tidak dapat tegak tanpa kesediaan berkorban.

Kedua, korban Idul Adha itu dinamai demikian karena kelembutan hati yang berkorban itu, dan kelembutan hati itu dibuktikan oleh ketulusan yang memberi. Korban adalah manifestasi dari rasa iba anda melihat orang lain. Atau dalam bahasa yang lebih umum “Rahmat”, kasih, sedang agama ini intinya adalah Rahmatan lil Alamin. Rahmat itu keperihan hati yang mendorong yang perih itu setelah melihat ketidakberdayaan orang lain, mendorongnya untuk mengurangi ketidakberdayaan orang lain itu. Dan dorongan itu semakin besar semakin banyak pengorbanan yang bersangkutan, dalam artinya pemberiannya pada orang lain. Tanpa kesediaan berkorban tidak ada aklhak, tanpa akhlak manusia runtuh, karena krisis yang dihadapi masyarakat yang tidak berakhlak, menjadikan mereka menggunakan krisis itu menjauh dari pengorbanan, tapi untuk keuntungan diri sendiri, lahirlah budaya mumpung, mencari kesempatan dari krisis.

Disyariatkanya kurban ini merujuk pada nabi Ibrahim, yang bersedia menuruti perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya sendiri, tapi kemudian Tuhan melarang mengorbankan manusia, walaupun di saat yang sama, manusia harus sadar bahwa tidak ada yang mahal untuk Allah. Ibrahim adalah tokoh yang menghimpun sekian banyak keistimewaan, karena itu ada ibadah haji yang digunakan untuk kita meneladani nabi Ibrahim.

==

Tulisan ini transkrip Tafsir Al Misbah, Mutiara Hikmah Idul Adha, oleh pak Quraish Shihab, yang tayang di MetroTV, 6 November 2011.

Tan Malaka Juga Nggak Percaya DPR!

Siapa yang nggak kenal Tan Malaka? Pasti banyak, terutama generasi yang lahir dan besar di jaman Orde Baru. Tan Malaka adalah sosok yang sangat dekat dengan komunisme, ideologi yang sangat diharamkan oleh penguasa di jaman Orde Baru. Ia pernah menjadi ketua Komunis Internasional di wilayah Asia Timur dan termasuk tokoh terkemuka Partai Komunis Indonesia. Mungkin karena itulah, buku-buku yang ditulis Tan Malaka dan bahkan sosok Tan Malaka sendiri jarang sekali dibahas atau diperkenalkan pada generasi muda di jaman Orde Baru.  Gue yang termasuk generasi yang lahir dan besar di jaman itu juga sama sekali nggak familiar dengan sosok Tan Malaka, sebelum setahun belakangan ini, ketika program acara tempat gue kerja sedikit membahas tentang Tan Malaka, dan sebelum gue beli buku Seri Bapak Bangsa Tempo, yang salah satunya tentang Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan.

Ibrahim datuk Tan Malaka adalah pejuang kemerdekaan. Sebenarnya kedekatannya dengan komunisme semata-mata karena ia melihat bahwa ideologi itu dapat membantu negaranya yang terjajah untuk merdeka. Dia memiliki mimpi dan gagasan tentang Indonesia yang merdeka, dan menuliskan gagasan itu sebelum bapak bangsa lain menuliskannya. Bahkan dalam buku ‘Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan’, disebutkan bahwa Tan Malaka adalah tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia:

Tan menulis buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) di tahun 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933). Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia.

Nggak hanya berhenti pada mimpi dan gagasan, Tan Malaka juga aktif memperjuangkan gagasan-gagasannya. Dalam perjalanan memperjuangkan gagasan-gagasannya, Tan Malaka seringkali dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah kolonial, hingga Tan Malaka harus hidup selama bertahun-tahun dengan berpindah-pindah, dalam berbagai penyamaran dan –ketika tertangkap– dalam pembuangan di berbagai daerah, tak hanya di Indonesia tapi juga negara lain, seperti Belanda, Uni Soviet, Jerman, Cina, Filipina, Singapura, Malaysia, dll. Semasa hidupnya Tan Malaka memiliki 23 nama samaran, pernah ditahan di 13 penjara, dan menguasai 8 bahasa.

Sekarang, Republik Indonesia yang diimpikan Tan Malaka sudah merdeka dari penjajah 65 tahun lamanya. Tapi masalah yang dihadapi belum habis, sekarang mungkin bisa dibilang lebih ironis, penjajahnya kali ini adalah orang-orang dari bangsa kita sendiri: pemerintah , pejabat, dan politisi korup. Indonesia adalah negara hukum, semua hal berkaitan dengan penyelenggaraan negara harus dilakukan berdasarkan hukum, karena itu bisa dibilang bahwa hulu dari semua potensi perilaku korup ada di DPR, pihak yang berwenang dalam membuat undang-undang.

gambar:tribunnews.com

Nggak heran kalau semakin lama semakin banyak masyarakat yang skeptis dan bahkan apatis pada apapun yang dilakukan wakil rakyat di DPR, karena Tan Malaka ternyata juga nggak percaya DPR! Dalam negara Republik Indonesia yang diimpikan Tan Malaka, ternyata DPR nggak termasuk dalam elemen sistem pemerintahannya. Berpuluh tahun lalu, Tan Malaka sudah bisa memprediksi akan seperti apa kelakuan orang-orang ditempatkan di parlemen. Tan Malaka yakin bahwa dengan ditempatkan di DPR, wakil rakyat justru akan terkondisikan untuk kesulitan menjalankan perannya dengan baik. Dalam buku Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan, Hasan Nasbi A. menjelaskan sikap Tan Malaka tentang DPR:

Tan Malaka sejatinya tak percaya terhadap parlemen. Bagi Tan Malaka, pembagian kekuasaan yang terdiri atas eksekutif legislatif dan parlemen hanya menghasilkan kerusakan. Pemisahan antara orang yang membuat undang-undang dan yang menjalankan aturan menimbulkan antara aturan dan realitas. (…)

Demokrasi dengan sistem parlemen melakukan ritual pemilihan sekali dalam 4, 5, atau 6 tahun. Dalam kurun waktu demikian lama, mereka sudah menjelma menjadi kelompok sendiri yang sudah berpisah dari masyarakat. Sedangkan kebutuhan dan pikiran rakyat berubah-ubah. Karena para anggota parlemen itu tak bercampur baur lagi dengan rakyat, seharusnya mereka tak berhak lagi disebut sebagai wakil rakyat.

Gambar: wakoranews.co.cc

Konsekuensinya adalah parlemen memiliki kemungkinan sangat besar menghasilkan kebijakan yang hanya menguntungkan golongan yang memiliki modal, jauh dari kepentingan masyarakat yang mereka wakili. Menurut Tan, parlemen dengan sendirinya akan tergoda untuk berselingkuh dengan eksekutif, perusahaan, dan perbankan.

(…)

Akhirnya, parlemen di mata Tan Malaka tak lebih dari sekadar warung tempat orang-orang adu kuat ngobrol. Mereka adalah para jago berbicara dan berbual, bahka kalau perlu sampai urat leher menonjol keluar. Tan Malaka menyebut anggota parlemen sebagai golongan tak berguna yang harus diongkosi negara dengan biaya tinggi.

Kalau kita ingat-ingat lagi perilaku wakil rakyat kita di DPR, pasti sulit rasanya untuk tidak setuju pada apa yang diprediksi Tan Malaka. Kalau begini ceritanya, kira-kira sampai kapan ya bangsa kita terus dijajah oleh bangsa sendiri?

Kadaluarsa Otak dan Pak Rosihan

Akhir 2010 yang lalu, bulan November, gue berkesempatan bertemu dengan legenda pers Indonesia, pak Rosihan Anwar, di rumahnya di Jl Surabaya, Jakarta. Waktu itu, gue menanyakan pak Rosihan tentang pengalamannya mewawancara Jendral Sudirman di tahun 1949. Pada masa itu sedang terjadi ketegangan antara pimpinan sipil dan pimpinan militer, Presiden Sukarno dan Jendral Sudirman. Pemicunya: perbedaan pandangan tentang cara perjuangan. Saat itu pimpinan militer tidak setuju dengan sikap Sukarno-Hatta yang ingin segera melakukan perundingan dengan Belanda.

“Pimpinan tentara, seperti Nasution dan Simatupang, beranggapan belum waktunya berunding. ‘Kita gasak dulu Belanda, dia udah kepayahan ini, supaya posisi perundingan pihak Republik itu kuat, bisa mendikte Belanda.’ Makanya tentara tidak mau berunding, Jendral Sudirman juga gitu pikirannya” Kata Pak Rosihan.

Di bulan Juli 1949, sesaat sebelum terjadinya perundingan Indonesia dengan Belanda mengenai penyerahan kedaulatan Indonesia, Konferensi Meja Bundar, Jendral Sudirman dijemput dari daerah gerilya untuk bergabung bersama Soekarno dan Hatta. Pak Rosihan saat itu ikut menjemput Jendral Sudirman dan sempat mewawancarainya.

“Saya wawancara dia, dia bilang, ‘Ya saya mau balik ke Yogya’, ‘ya kalau gitu saya balik dulu ya bung, mau kirim berita ke Jakarta’, sebab berita Sudirman yang mau bergabung juga ke Yogya dengan Soekarno Hatta, berita yang ditunggu-tunggu juga oleh Belanda di Jakarta” kenang Pak Rosihan.

Presiden Sukarno memeluk Jendral Sudirman, yang baru kembali dari daerah gerilya. Yogyakarta, 9 Juli 1949.

Pak Rosihan menceritakan semuanya dengan detil, seolah semua itu baru aja terjadi kemarin. Padahal waktu itu umur pak Rosihan sudah hampir mencapai 89 tahun!

Saat orang-orang seumurnya udah mulai menunjukkan gejala-gejala penurunan fungsional otak karena usia lanjut, semacam pikun atau demensia, pak Rosihan sama sekali ga menunjukkan tanda-tanda itu. Selain menceritakan dengan cukup detil kejadian-kejadian yang dialaminya puluhan tahun lalu, pak Rosihan juga seperti ga bermasalah mengingat hal-hal baru. Dengan mudah pak Rosihan mengingat nama gue dan kameraman, ketika kami memperkenalkan diri. Beberapa bulan setelah wawancara itu, kami sempat mengundang pak Rosihan ke kantor untuk wawancara di studio. Ketika wawancara selesai dan ia akan pulang, pak Ros bertanya, “Mana Hendrik? Sudah datang belum dia?” Hendrik adalah supir kantor yang menjemput pak Ros dari rumahnya menuju ke kantor, tadi sore. Waw. Sementara, gue dan beberapa teman, yang mungkin umurnya hanya 1/4 umur pak Rosihan, kadang merasa sulit untuk mengingat nama-nama orang yang baru dikenal.

Lebih kontras lagi kalau dibandingkan dengan nenek gue dari pihak ayah, nenek Nurjannah. Beliau tinggal di kampung, di Sumatera Barat. Gue dan keluarga sempat mengunjungi nenek sebulan setelah pertemuan gue dengan pak Rosihan. Terakhir gue ketemu nenek 4 tahun yang lalu, ketika nenek datang ke Jakarta. Ternyata, sekarang kondisi nenek udah jauh berbeda dari terakhir bertemu. Penyakit pikun udah semakin memakan kemampuan memorinya. Sampai-sampai nenek lupa sama papa, anaknya sendiri. Berulang kali nenek bertanya, “Ha, kau siapa?” ke papa, juga ke mama, gue dan adik. Ketika dijelaskan bahwa yang datang anak dan cucu-cucunya, baru ia ingat dan memeluk kami erat-erat. Tapi beberapa menit kemudian, lupa lagi. Sedih banget rasanya ngeliat nenek seperti itu. Padahal umur nenek 3 tahun lebih muda dari umur pak Rosihan saat itu.

“Saya jadi wartawan sudah 67 tahun, saya mengalami jaman Jepang, revolusi kemerdekaan, beberapa jaman dari sesudah perang kemerdekaan” Kata pak Rosihan.

Pak Rosihan menjadi wartawan sejak umur 20-an. Ia pernah menjadi pemimpin redaksi Pedoman yang terbit tahun 1948, koran yang sempat dibredel di jaman presiden Soekarno dan presiden Soeharto. Setelah koran yang dipimpinnya dibredel, pak Rosihan tidak berhenti menulis dan terus mengamati perkembangan yang terjadi di Indonesia. Tulisannya sering dimuat di koran-koran nasional, dan ia juga menulis banyak buku.

Memasuki usia tua, pak Rosihan masih terus menulis. Kadang tulisannya masih muncul di koran-koran nasionalseperti Kompas. Belakangan gue tahu Tabloid Cek n Ricek memberikan kolom khusus untuk pak Rosihan, menulis apapun yang dia mau. Waktu gue berkunjung ke rumahnya untuk wawancara itu, pak Rosihan bercerita kalau saat itu dia sedang menulis memoir yang akan dijadikan buku, tentang Istrinya yang belum lama meninggalkannya. Waktu itu pak Rosihan memang berulang kali menceritakan tentang almarhumah istrinya, betapa sangat sedihnya dia ditinggalkan istri yang sangat dicintainya. “Kamu pasti ga bisa membayangkan Cory, bagaimana beratnya ditinggalkan seseorang setelah puluhan tahun bersama-sama, saya dengan ibu Ros sudah 60 tahun lebih kami menikah..” kata Pak Rosihan waktu itu.

14 April 2011, pak Rosihan meninggalkan kita semua. Padahal satu bulan sebelumnya ia baru saja sukses menjalani operasi jantung. Gue ga tau dan ga mendengar lagi kabar buku memoir istrinya yang tengah ditulisnya, apakah sudah sempat diselesaikannya atau belum..

Pak Rosihan kembali mengingatkan gue betapa pentingnya kebiasaan menulis. Mungkin kebiasaannya itu yang telah menjaga otaknya tetap prima, seakan tak kenal kadaluarsa, saat anggota tubuhnya yang lain mulai melemah termakan usia.

Terima kasih pak Rosihan.

Greetings from New Chick on da Blo(ck/g)!

Setelah melalui pertimbangan yang panjang dan lama (yang sebenarnya nggak perlu-perlu amat) akhirnya saya memutuskan membuka cabang my personal virtual pensieve lagi di WordPress..yaay! Hehe..

Perkenalkan, nama saya Cory, saya warga baru di RW sini, sebelumnya saya di RW sebelah, multiply, karena itu harap maklum kalau virtual pensieve ini masih kopong ya..

Semoga keputusan saya buka cabang dan pindah ke RW sini membawa perubahan baik, saya jadi lebih rajin ngeblog, dan juga apa yang saya tuangkan nantinya senantiasa membawa barokah bagi saya sendiri dan serta semua yg membacanya..amin-amin ya robbal’alamiin.. *ditimpuk berkat kondangan* hehe

Baiklaah..saya tinggal dulu ya,mau liat-liat rumah baru..hmm..let’s see wat i cud do here..