Buku ini adalah buku pertama tentang Tan Malaka yang saya baca. Dari buku ini, saya sedikit lebih mengenal pejuang kemerdekaan yang misterius ini, sosok yang sempat diharamkan di era Orde Baru karena kedekatannya dengan komunisme–Tan sempat menjabat sebagai ketua PKI dan bergabung dengan Komunis Internasional (Komintern). Buku ini mengajak kita mengikuti perjalanan sejarawan asal Belanda, Harry Poeze, yang mencoba menapaktilasi kehidupan Tan Malaka, dari tanah kelahirannya di Sumatera Barat hingga di berbagai tempat perantauannya.
Tan Malaka ternyata bernama asli Ibrahim. Ia termasuk keturunan pimpinan adat di Sumatera Barat, dan Tan Malaka adalah nama gelar yang diperolehnya ketika mulai memasuki usia dewasa. Meskipun termasuk keturunan pemimpin adat Minang, keluarga Ibrahim bukan keluarga yang berkecukupan. Di bagian awal buku, diceritakan bagaimana Ibra yang berasal dari keluarga sederhana ini bisa mengecap pendidikan hingga ke negeri Belanda. Kemudian, cerita berlanjut dengan menggambarkan kehidupannya dengan segala tantangan yang dilaluinya di negeri Belanda, hingga cerita di balik kepulangannya ke tanah air tanpa sempat membawa gelar pendidikan dari negara kincir angin tersebut.
Ibrahim Tan Malaka diceritakan memilki pemikiran dan konsep tentang ‘Republik Indonesia’ lebih dulu dari bapak bangsa lainnya, setidaknya Soekarno dan Hatta. Tulisan-tulisannya tentang perjuangan kemerdekaan menjadi pegangan Soekarno, Hatta, dan tokoh bangsa lain. Tapi pada masa kemerdekaan sosok Tan misterius dan sulit ditemui karena Tan seringkali harus kucing-kucingan dengan tentara kolonial. Hal itu disebakan karena sepak terjangnya di organisasi Komunis Internasional dianggap ancaman sehingga ia menjadi buronan pemerintah kolonial. Hal itu membuatnya selalu berada dalam penyamaran dan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara Asia lain hingga Eropa.
Kedekatan Tan dengan komunisme sesungguhnya adalah salah satu upaya untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Tan adalah nasionalis sejati yang meyakini komunisme dapat membantu Indonesia melepaskan diri dari belenggu penjajah. Jika komunisme seringkali diidentikkan dengan anti agama, Tan Malaka justru memiliki pemikiran bahwa komunisme di Indonesia harus bergabung dengan Pan Islamisme. Tan menganggap Komunisme dan Pan Islamisme sebagai racikan yang tepat untuk mewujudkan kemerdekaan bangsanya. Gagasan kolaborasi Komunisme-Pan Islamisme Tan sempat mendapat sambutan baik dari beberapa tokoh Syarekat Islam. Tapi ternyata tak mudah bagi Tan untuk menyatukan dua aliran tersebut.
Selain menceritakan tentang keterlibatan Tan di berbagai gerakan perjuangan kemerdekaan dan organisasi komunis, buku ini juga sedikit menyentuh kehidupan pribadi Tan Malaka. Dalam buku ini diceritakan ada beberapa nama perempuan yang sempat mewarnai hidup Tan Malaka, meski hingga akhir hayatnya, tak sekalipun Tan menikah.
Buku ini juga menceritakan peran dan keterlibatan Tan di seputar masa persiapan kemerdekaan hingga proklamasi, serta dinamika hubungannya dengan tokoh bangsa lain juga tokoh komunis lain, hingga cerita tragis hidupnya yang berakhir di ujung bedil oleh saudara sebangsanya sendiri.
