Momok Pendidikan Nasional Bernama Ujian Nasional

Dari tahun ke tahun, Ujian Nasional di tanah air selalu mengundang kontroversi. Banyak praktisi pendidikan yang tidak sepakat dengan sistem tolok ukur pendidikan nasional yang dibuat pemerintah melalui Ujian Nasional atau Ujian Akhir Nasional. Utomo Dananjaya, tokoh senior pendidikan nasional salah seorang pendiri lembaga pendidikan Paramadina, salah satunya. Menurutnya UN hanya menambah tingkat putus sekolah di Indonesia, jadi dengan UN pemerintah seperti merencanakan lebih banyak putus sekolah. Utomo menilai sistem UN sudah kuno dan tidak masuk akal. Ia tidak mengerti bagaimana mungkin ukuran kelulusan hanya dilakukan sekali setelah 3 tahun sekolah. Yang lebih fatal menurutnya, di Indonesia UN justru mencemaskan anak didik, karena seolah-olah masa depan mereka terancam oleh UN: Jika tidak lulus, kesempatan anak untuk meneruskan pendidikan seolah habis.

Meresahkan Murid

Kecemasan anak didik ini diperbesar lagi dengan berbagai usaha sekolah yang terkesan seperti menakut-nakuti anak didik dengan membesar-besarkan ancaman ‘ketidaklulusan’. Di satu sisi mungkin kepala sekolah dan guru ingin meningkatkan tingkat kelulusan sekolahnya, namun Utomo berpendapat bisa jadi juga ada beberapa pihak yang ingin mencari kesempatan dengan mencari tambahan uang dengan memberikan les tambahan atau menjual buku-buku pelajaran tambahan, dan sebagainya.

Di beberapa daerah, beberapa sekolah bahkan juga melakukan solat Istighasah bersama menjelang UN. Utomo berpendapat hal ini bisa menambah tingkat kecemasan anak didik, karena guru seperti memperlihatkan UN sebagai hal yang demikian mengancam hingga harus dihadapi dengan menyelenggarakan solat Istigasah bersama. Jika ada ketidaklulusan nantinya, Utomo mencemaskan bahwa bisa jadi justru muncul kecenderungan pada anak didik untuk menyalahkan Tuhan.

Gugatan Para Guru

Para pengamat dan praktisi pendidikan sebenarnya telah menggugat pemerintah mengenai masalah UN. Mereka sepakat berpendapat bahwa dengan menyelenggarakan UN pemerintah telah melanggar Hak Asasi Manusia, terutama Hak Anak dan Hak Pendidikan. Gugatan para praktisi pendidikan ini dimenangkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, kemudian dimenangkan lagi oleh Pengadilan Tinggi. Dan ketika pemerintah mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung pada 2008, MA tetap memutuskan pemerintah telah melanggar HAM dengan menyelenggarakan UN. Tapi anehnya, setelah itu Menteri Pendidikan tetap menyelenggarakan UN. Menurut logika mereka UN tetap diselenggarakan karena tidak ada pelarangan pelaksanaan UN oleh MA. Hal ini menimbulkan kekecewaan yang besar di antara para praktisi pendidikan yang menggugat saat itu. Menurut Utomo, setelah itu tidak ada lagi upaya yang signifikan yang dilakukan mereka untuk menggugat pemerintah terkait UN karena mereka sudah lelah menghadapi pemerintah.

Pemborosan Anggaran Negara

Utomo juga beranggapan bahwa selama ini UN hanya menghabiskan anggaran pemerintah saja. Untuk tingkat SD, SMP dan SMA, anggaran yang habis untuk UN sekitar Rp670 milyar. Tapi tidak banyak manfaat UN, seolah justru hanya lebih banyak mencemaskan murid, dan tidak menunjukkan perkembangan pendidikan di daerah. Penyelenggaraan UN di daerah pun lebih banyak terkesan hanya main-main saja, soal ujian seringkali bocor, ada mencontek massal, dll. Utomo menilai pemerintah memiliki pendapat bahwa pendidikan anak di Indonesia adalah tanggung jawab orangtua. Padahal di UUD 45, pasal 31 ayat 2 mengatakan bahwa anak wajib mengikuti pendidikan dasar dan dengan demikian wajib bagi pemerintah untuk membiayai pendidikan. Utomo mengingatkan bahwa UUD 45 adalah UU tertinggi di negeri ini, dan UU ini telah dilanggar oleh pemerintah, yaitu Pasal 31 (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang. Konstitusi 1945 asli dan pertama (1999), kedua (2000), ketiga (2001) dan keempat (2002) amandemen.

Meskipun anggaran pendidikan dari APBN relatif besar, mencapai lebih dari Rp 200 triliun, tapi menurut pengamatan Utomo anggaran itu tidak sepenunhnya digunakan untuk membiayai pendidikan dasar. Dari jumlah itu, lebih dari 60%nya digunakan untuk membayar gaji guru, pendidikan militer, dan pendidikan lain yang diselenggarakan pemerintah. Padahal seharusnya yang dibiayai sepenuhnya adalah pendidikan dasar, tingkat SD hingga SMP.

Pendidikan Karakter Terabaikan

Mengapa pemerintah bersikukuh menyelenggarakan UN meskipun mendapat tentangan dari para guru dan pengamat pendidikan? Utomo melihatnya lebih karena pemerintah tidak ada pekerjaan lain. Dengan diselenggarakannya UN, pemerintah jadi memiliki kesibukan nasional. Utomo sangat menyayangkan hal ini karena yang paling terancam dengan hal itu adalah para murid. Misalnya, bagi murid SD kalau tidak lulus UN, seolah habislah kesempatan untuk belajar ke SMP. UN pun di daerah seolah dilakukan dengan main-main. Karena ingin tingkat kelulusan yang tinggi di sekolah, guru membiarkan atau bahkan mengkoordinir contek massal. Fenomena contek massal yang muncul ini menunjukkan bahwa UN justru berdampak negatif pada pendidikan karakter murid. Hukuman yang diberikan pada guru yang terlibat contek massal juga hanya ringan, seperti mutasi. Ini seolah menunjukkan bahwa masyarakat kita tidak peduli pada pendidikan karakter.

Utomo memberikan perbandingan, Di Amerika Serikat, ujian nasional dilakukan hanya untuk mengetahui education progress dari tiap wilayah. Jadi ujian nasional tidak hanya dilakukan di akhir, tapi bisa kapan saja secara berkala. Ujian nasional juga tidak dilakukan untuk menentukan kelulusan para peserta didik di Amerika. Meski demikian, kecurangan di sekolah juga pernah terjadi di Amerika Serikat pada tahun lalu. Kecurangan itu dilakukan oleh kepala sekolah dan guru yang berjumlah 187 orang, untuk meningkatkan peringkat sekolahnya. Tidak seperti di Indonesia, di Amerika Serikat hal seperti itu dianggap sebagai dosa besar, sehingga semua 187 guru yang terlibat langsung dipecat.

Menurut Utomo, pemerintah seharusnya menyelenggarakan ujian nasional sebagai evaluasi nasional, bukan sebagai penentuan kelulusan siswa. Hasil dari ujian nasional digunakan untuk melihat perkembangan pendidikan perwilayah. Lalu berdasarkan penilaian tersebut pemerintah dapat melakukan perbaikan pendidikan. Namun, dari sikap pemerintah selama ini, Utomo menilai pemerintah selama ini tidak benar-benar ingin meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Contohnya saja, sistem pendidikan SD sejak 1990-an hingga kini tidak ada perubahan yang signifikan. Kalaupun ada perubahan sistem pendidikan di Indonesia, itu dilakukan oleh pihak swasta. Utomo bahkan mengenal beberapa orang yang mendirikan sekolah sendiri hanya agar anaknya bisa sekolah, karena mereka tidak percaya dengan institusi pendidikan yang ada di Indonesia.

Utomo mengatakan bahwa sebenarnya banyak cara yang dapat digunakan untuk menentukan kelulusan siswa selain dengan ujian akhir seperti UAN. Misalnya seperti di salah satu SD yang dibinanya, diberlakukan sistem penilaian otentik. Jadi penilaian dilakukan dengan melibatkan siswa. Sistem penilaian dirundingkan dengan siswa, sehingga siswa bisa ikut belajar menilai dirinya sendiri. Penilaian juga tidak selalu dengan angka. Misalnya jika mengerjakan tugas dapat satu emoticon senyum, kalau benar semua dapat tiga emoticon senyum, dst. Dan di akhir masa belajar dikumpulkan berapa emoticon senyum yang diperoleh anak didik. Setiap 6 bulan diselenggarakan conference student, yaitu pertemuan antara guru, murid, dan orangtua murid. Di conference student, guru tidak hanya menunjukkan hasil belajar murid pada orangtua, tapi murid juga mempresentasikan materi yang telah dikuasainya di depan orangtuanya. Selain itu guru juga menanyakan pada orangtua tentang kepribadian dan sikap murid di rumah, apakah sesuai seperti yang ditunjukkan di sekolah, dll. Dengan itu, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan akademis tapi juga pendidikan kepribadian dan karakter murid.

***

Hasil ngobrol dengan Utomo Dananjaya, Oktober 2011

Hari Sumpah Pemudi, Awal Gerakan Perempuan di Indonesia

Gerakan perempuan di tanah air sudah dimulai sejak 1910.  Saat itu telah ada organisasi perempuan yang merupakan bagian dari Budi Utomo. Tapi sebagai organisasi yang berdiri sendiri, organisasi perempuan di Indonesia pertama kali berdiri pada tahun 1912, yang diberi nama Putri Mahardika.

Gerakan perempuan di tingkat nasional terlihat saat diselenggarakannya konferensi perempuan pertama, tak lama setelah Sumpah Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928, yaitu  tanggal 22 Desember 1928. Saat itulah pertama kalinya organisasi perempuan dari berbagai daerah di nusantara berkumpul dan mulai membahas isu nasionalisme, namun juga tetap tak lepas dari isu perempuan seperti perkawinan dan pendidikan. Ruth Indiah Rahayu*, aktivis perempuan, menyebutnya hari itu sebagai Hari Sumpah Pemudi. Konferensi itulah yang menjadi dasar dijadikannya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu di Indonesia.

Memasuki tahun 1940-an, gerakan perempuan mengalami perubahan. Saat itu gerakan perempuan mengalami hambatan karena fasisme Jepang mulai masuk ke Indonesia. Gerakan perempuan mulai stabil setelah berakhirnya masa kolonialisasi dan Indonesia telah memperoleh kemerdekaan. Di era pimpinan presiden Soekarno, tahun 1950-an, mulai berdiri organisasi-organisasi perempuan baru seperti Sedar, Perempuan Marhaen, dll. Namun ada juga organisasi pra kemerdekaan yang masih bertahan, yaitu Perwani. Berbagai organisasi perempuan mulai tumbuh, mulai dari yang bersifat otonom hingga yang merupakan afiliasi dari partai. Seluruh organisasi perempuan yang ada, bergabung dalam satu wadah, yaitu federasi Kowani.

Perkembangan di Era Soekarno

Di masa kepemimpinan presiden Soekarno, organisasi perempuan cukup berkembang. Karena di awal kemerdekaan semua organisasi baru bisa tumbuh dan berkembang dengan leluasa, presiden mendukung berbagai gerakan yang ada.  Salah satu bentuk dukungan Soekarno terhadap gerakan perempuan adalah dengan ditulisnya buku Sarinah, mengenai perjuangan perempuan. Setelah buku Sarinah ditulis, muncul berbagai spekulasi mengenai siapa sebenarnya sosok Sarinah yang ditulis Soekarno. Ada yang berpendapat bahwa Sarinah adalah perempuan tua yang merawat Soekarno ketika kecil, tapi  Ruth Indiah Rahayu berpendapat bahwa Sarinah hanyalah tokoh imajinasi Soekarno mengenai sosok perempuan pejuang.

Partai pimpinan Soekarno, PNI, juga memiliki organisasi perempuan, yaitu Wanita Demokrat. Namun ketika Soekarno gencar menyerukan ajakan revolusi untuk melawan imperialisme, organisasi Wanita Demokrat justru tidak berani menjawab ajakan tersebut. Satu-satunyna organisasi perempuan yang menyatakan berani ikut melawan imperialisme saat itu adalah Gerwani.

Organisasi Gerwani yang memiliki reputasi kurang baik di masyarakat karena sering dihubung-hubungkan dengan pemberontakan PKI ini sebenarnya merupakan organisasi perempuan otonom yang tidak berafiliasi dengan PKI. Awalnya, Gerwani berasal dari organisasi perempuan bernama Gerwis, yang merupakan fusi dari 7 organisasi perempuan yang berjuang melawan penjajah Jepang. Di tahun 1954, Gerwis berubah menjadi Gerwani, dan memperluas perjuangannya menjadi perjuangan yang berorientasi pada rakyat. Karena itu Gerwani banyak berhubungan dengan organisasi pro rakyat lain seperti Barisan Tani Indonesia, PKI, dan organisasi lain yang gencar melawan imperialisme.

Selain memperjuangkan masalah-masalah rakyat secara umum, sebagai organisasi perempuan, Gerwani juga gencar memperjuangkan isu-isu perempuan, terutama isu Poligami dan pernikahan dini. Namun Gerwani sempat menerima kritik keras di tahun 1952. Ketika itu, berita sedang hangat memberitakan rencana presiden Soekarno untuk menikah lagi dengan Hartini. Berbagai organisasi perempuan turun ke jalan menyuarakan perlawanan mereka menentang sikap presiden Soekarno yang akan berpoligami. Namun, Gerwani yang sebelumnya keras melawan poligami saat itu justru mengambil sikap abstain dan tidak ikut turun ke jalan. Banyak pihak menuding Gerwani lebih mementingkan kepentingan politik ketimbang memperjuangkan masalah perempuan. Ruth sempat menanyakan kepada ketua Gerwani, Umi Sardjono mengenai hal tersebut. Dari Umi, Ruth memperoleh jawaban bahwa sikap abstain Gerwani saat itu disebabkan karena ada dilema yang dihadapi Gerwani. Di satu sisi Gerwani sebagai organisasi perempuan memang menentang poligami. Namun di sisi lain, Gerwani juga memandang Soekarno sebagai tokoh utama yang menentang dan ingin mengusir imperialisme, hal yang juga  tengah diperjuangkan Gerwani.

Perjanjian Meja Bundar menghasilkan kesepakatan yang merugikan Indonesia. Meskipun Belanda sepakat meninggalkan Indonesia, tapi Belanda ingin tidak ada aset nasional yang dinasionalisasi. Jadi dengan menerima kesepakatan KMB, berarti imperialisme di bidang ekonomi tetap masih ada. Soekarno merupakan sosok utama yang memimpin perlawanan untuk mengusir imperialisme Belanda di Indonesia. Karena dilema itu, akhirnya Gerwani mengambil sikap untuk abstain dan tidak ikut turun aksi menentang poligami Soekarno.

Pengerdilan Peran Perempuan di Era Soeharto

Situasi jauh berbeda terjadi di jaman kepemimpinan otoritarian presiden Soeharto. Saat itu pemerintah memberlakukan azas tunggal yang diterapkan pada berbagai aspek, termasuk juga organisasi perempuan. Pemerintah menyeragamkan topik perjuangan organisasi-organisasi perempuan yang diwadahi oleh Kowani agar sesuai dengan tujuan pembangunan.

Azas Tunggal yang dicanangkan pemerintah untuk menyeragamkan pergerakan perempuan dituangkan dalam Panca Dharmawanita:

1.Wanita sebagai pendamping suami
2.Fungsi utama wanita adalah reproduksi
3.Wanita sebagai pengatur ekonomi keluarga
4.Wanita merupakan pencari nafkah tambahan di keluarga
5.Wanita boleh berorganisasi namun tidak masuk di ranah politik

Penyeragaman terutama terlihat pada organisasi inti Kowani yaitu PKK dan Dharmawanita. Perjuangan perempuan terbatas pada hal-hal seperti menyokong suami, menyukseskan Keluarga Berencana, membantu prestasi suami sebagai pejabat, hingga perempuan tidak lagi leluasa memperjuangkan masalah-masalah perempuan. Hal ini semakin terlihat ketika Kowani menolak ajakan memperjuangkan nasib Tenaga Kerja Indonesia dan Pembantu Rumah Tangga di tahun 1980. Karena penyeragaman itu, pergerakan perempuan mengalami berarti kemunduran di jaman presiden Soeharto dibandingkan pada jaman kepemimpinan Soekarno.

Organisasi Perempuan yang gencar melakukan perjuangan juga mengalami tekanan. Tekanan paling besar dialami oleh Gerwani. Pasca peristiwa pembunuhan Jendral, Gerakan 30 September 1965, Gerwani gencar dikabarkan terlibat aksi tersebut. Anggota Gerwani santer dikabarkan menari-nari telanjang di depan para jendral yang disekap, dan menyiksa mereka sebelum akhirnya mereka dibunuh. Banyak pihak akhirnya ikut mengambil kesempatan untuk menyerang Gerwani untuk membalas dendam, karena sebelumnya Gerwani keras menentang poligami dan pernikahan dini di masyarakat.

Pasca G30S, pemerintahan di bawah kepemimpinan Soeharto menjadikan Gerwani sebagai momok, sebagai sosok yang jalang dan keji. Pemerintah menakut-nakuti organisasi perempuan yang mulai berani melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan menyamakan mereka dengan Gerwani, hingga banyak yang tunduk diazastunggalkan pemerintah. Di masa kepemimpinan Soeharto, Gerwani juga seolah dijadikan penghancuran gerakan melawan imperialisme.

Perlawanan akhirnya muncul. Di tahun 1980-an terjadi arus balik yang menentang gerakan perempuan yang diazastunggalkan oleh Soeharto. Saat itu terjadi perang antar organisasi perempuan, yaitu antara Kowani dan feminis era 80-an. Perlawanan dilakukan untuk memperjuangkan kembali hak politik perempuan yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Soekarno tapi dimandulkan di jaman Soeharto. Perlawanan juga muncul dipicu terjadinya berbagai konflik kekerasan terhadap perempuan di masa Orde Baru, seperti di konflik Aceh dan peristiwa di tahun 1965. Puncaknya, perlawanan muncul dipicu adanya kasus kekerasasan pada perempuan yang terjadi pada kerusuhan Mei 1998. Gerakan perempuan saat itu akhirnya berhasil mendirikan Komnas Perempuan yang menjadi saluran organisasi yang memperjuangkan HAM perempuan.

**

Dari ngobrol dengan Ruth Indiah Rahayu, aktivis perempuan, Ketua Dept Pendidikan & Propaganda Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja dan Anggota Barisan Perempuan Indonesia,8/4/11

Review Buku: Tan Malaka: Bapak Republik Yang Dilupakan

Buku ini adalah buku pertama tentang Tan Malaka yang saya baca. Dari buku ini, saya sedikit lebih mengenal pejuang kemerdekaan yang misterius ini, sosok yang sempat diharamkan di era Orde Baru karena kedekatannya dengan komunisme–Tan sempat menjabat sebagai ketua PKI dan bergabung dengan Komunis Internasional (Komintern). Buku ini mengajak kita mengikuti perjalanan sejarawan asal Belanda, Harry Poeze, yang mencoba menapaktilasi kehidupan Tan Malaka, dari tanah kelahirannya di Sumatera Barat hingga di berbagai tempat perantauannya.

Tan Malaka ternyata bernama asli Ibrahim. Ia termasuk keturunan pimpinan adat di Sumatera Barat, dan Tan Malaka adalah nama gelar yang diperolehnya ketika mulai memasuki usia dewasa. Meskipun termasuk keturunan pemimpin adat Minang, keluarga Ibrahim bukan keluarga yang berkecukupan. Di bagian awal buku, diceritakan bagaimana Ibra yang berasal dari keluarga sederhana ini bisa mengecap pendidikan hingga ke negeri Belanda. Kemudian, cerita berlanjut dengan menggambarkan kehidupannya dengan segala tantangan yang dilaluinya di negeri Belanda, hingga cerita di balik kepulangannya ke tanah air tanpa sempat membawa gelar pendidikan dari negara kincir angin tersebut.

Ibrahim Tan Malaka diceritakan memilki pemikiran dan konsep tentang ‘Republik Indonesia’ lebih dulu dari bapak bangsa lainnya, setidaknya Soekarno dan Hatta. Tulisan-tulisannya tentang perjuangan kemerdekaan menjadi pegangan Soekarno, Hatta, dan tokoh bangsa lain. Tapi pada masa kemerdekaan sosok Tan misterius dan sulit ditemui karena Tan seringkali harus kucing-kucingan dengan tentara kolonial. Hal itu disebakan karena sepak terjangnya di organisasi Komunis Internasional dianggap ancaman sehingga ia menjadi buronan pemerintah kolonial. Hal itu membuatnya selalu berada dalam penyamaran dan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara Asia lain hingga Eropa.

Kedekatan Tan dengan komunisme sesungguhnya adalah salah satu upaya untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Tan adalah nasionalis sejati yang meyakini komunisme dapat membantu Indonesia melepaskan diri dari belenggu penjajah. Jika komunisme seringkali diidentikkan dengan anti agama, Tan Malaka justru memiliki pemikiran bahwa komunisme di Indonesia harus bergabung dengan Pan Islamisme. Tan menganggap Komunisme dan Pan Islamisme sebagai  racikan yang tepat untuk mewujudkan kemerdekaan bangsanya. Gagasan kolaborasi Komunisme-Pan Islamisme Tan sempat mendapat sambutan baik dari beberapa tokoh Syarekat Islam. Tapi ternyata tak mudah bagi Tan untuk menyatukan dua aliran tersebut.

Selain menceritakan tentang keterlibatan Tan di berbagai gerakan perjuangan kemerdekaan dan organisasi komunis, buku ini juga sedikit menyentuh kehidupan pribadi Tan Malaka. Dalam buku ini diceritakan ada beberapa nama perempuan yang sempat mewarnai hidup Tan Malaka, meski hingga akhir hayatnya, tak sekalipun Tan menikah.
Buku ini juga menceritakan peran dan keterlibatan Tan di seputar masa persiapan kemerdekaan hingga proklamasi, serta  dinamika hubungannya dengan tokoh bangsa lain juga tokoh komunis lain, hingga cerita tragis hidupnya yang berakhir di ujung bedil oleh saudara sebangsanya sendiri.

Idul Adha menurut Pak Quraish Shihab

Makna Korban

Korban dalam bahasa Indonesia ada dua makna, korban bisa jadi disakiti, bisa jadi hatinya atau badannya, dia dikorbankan. Korban juga berarti ketulusan, persembahan, persembahan kepada siapapun, apalagi kepada Allah, tidak bisa kalau tidak disertai dengan ketulusan. Orang yang dikorbankan mestinya menimbulkan rasa sedih di hati kita, tapi kesedihan itu baru muncul kalau hati anda lembut, kalau hatinya keras tidak peduli. Dari sini korban dalam bahasa Indonesia diartikan dengan ketulusan, pengabdian, atau yang disakiti, yang dikorbankan.

Tapi dalam bahasa Al Quran, pengertian korban bukan dalam pengertian yang disakiti, tapi korban lebih banyak diartikan persembahan, qurb itu artinya dekat, kalau sesuatu yang berharga anda persembahkan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah itu kurban. Dalam Idul Adha, memang ada kata yang juga diartikan korban terambil dalam kata adha ini, karena itu tadi, seorang atau sesuatu yang terlukai itu mestinya menimbulkan rasa iba kepadanya dan pada akhirnya anda akan merasakan sakit sebagaimana sakitnya yang dikorbankan, itu pengertian kebahasaan.

Dalam Al Quran, diceritakan bahwa dua anak Adam, Qabil dan Habil mempersembahkan hasil usahanya, yang satu diterima, yang satu tidak. Dijelaskan bahwa yang diterima Allah adalah kurban yang baik kurban yang diberikan Habil, Allah tidak menerima daging korban, tidak juga menerima darah, tapi yang diterimanya adalah ketulusan hati dan ketakwaan yang memberikan.

Berkaitan dengan hati, Rasul menunjuk bahwa takwa itu adanya di hati. Jadi disyariatkannya Idul Adha itu dengan mengorbankan, dengan menyembelih binatang tertentu itu sebenarnya adalah kurban untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, yang diterimaNya itu bukan daging atau darah kurbannya tapi ketulusan hati yang memberikan. Karena itu bisa jadi satu orang mempersembahkan satu kambing, yang lain kerbau yang besar, tapi yang diterima yang memberikan kambing, karena Tuhan tidak lihat besar atau kecilnya, tapi ketulusan hati masing-masing.

 

Keistimewaan Nabi Ibrahim

Dikaitkan dengan Hari Raya Haji, kita dalam Islam merujuk lebih banyak pada nabi Ibrahim daripada pada Adam. Agama-agama samawi: Yahudi, Nasrani, Islam, ajarannya lebih banyak dikaitkan pada nabi Ibrahim, begitu juga kita di Islam, ibadah kurban dan haji lebih banyak dikaitkan pada nabi Ibrahim. Mengapa? Karena nabi Ibrahim punya keistimewaan luar biasa yang tidak dimiliki oleh yang lain. Dalam konteks hari raya qurban, kita baca di Al Quran tentang nabi Ibrahim, nabi Ibrahim dijelaskan dalam Al Quran bahwa beliau itu sering berkata “Ah..”, maksudnya nabi Ibrahim hatinya sangat halus, sangat lembut, sampai-sampai menurut sementara ulama, ada yang berkata, nama Ibrahim itu terambil dalam kata abun rahim, ayah yang sangaat pengasih.

Kita kaitkan qurban dengan kelembutan hati. Nabi Ibrahim itu adalah nabi yang mengumandangkan pada umatnya bahwa Tuhan yang disembah itu adalah Rabul alamin, tuhan sekalian alam, kalau nabi lainnya, memperkenalkan Ttuhan pada masyarakatnya sebagai “Tuhan Kami”, tapi nabi Ibrahim tidak. Keistimewaannya yang kedua, nabi Ibrahim pernah minta ditunjukkan pada Allah bagaimana membangkitkan orang yang sudah mati, keimanan nabi Ibrahim pada hari akhir sangat kuat. Nabi Ibrahim itu juga sangat sayang pada manusia, kalau ada tamu disambutnya luar biasa, dia sembunyi-sembunyi memberi tahu keluarganya untuk membuatkan makanan dan minuman untuk tamu, kenapa sembunyi-sembunyi? Karena kalau tamunya tahu khawatir dilarang untuk memberi jamuan. Kalau ada tamu pulang, dia tidak antar sampai ke pintu, tapi dia antar sampai ke luar, sampai ke perbatasan, sangat hormatnya dia pada tamu.

Karena hormatnya nabi Ibrahim pada sesame itu, Allah membatalkan kebiasaan manusia mengorbankan manusia lain, di jaman dulu ada sebagian orang yang mengorbankan manusia sebagai persembahan pada Tuhan, misalnya mengorbankan gadis cantik setiap tahun, ada juga mengorbankan tokoh agamanya yang paling hebat, ada yang mengorbankan bayi, Allah melarang hal itu. Allah berkata, Oke deh, Ibrahim, sembelih anakmu, lalu patuhlah Ibrahim, tapi Allah kemudian melarangnya, dan ingin menunjukkan bahwa pengorbanan manusia itu terlarang. Untuk itu semua, kita lantas beridul Adha mengikuti nabi Ibrahim sehigga kita diperintahkan untuk menyembelih kambing, domba, sapi, unta, tapi syaratnya harus yang sempurnya, karena kalau anda mau korban jangan setengah-setengah.

 

Hakikat Berkorban

Orang yang berkorban itu tidak berhenti kecuali, tercapai tujuannya atau habis modalnya. Dulu kita waktu berjuang melawan Belanda “Merdeka atau Mati!”,  begitu juga dengan berkorban, jangan setengah-setengah, dan jangan menunggu imbalan, kalau mau menunggu imbalan, tunggu dari Allah jangan menunggu imbalan dari manusia. Itulah nilai-nilai yang harus dihayati oleh semua orang yang beridul Adha.

Ada yang menarik dari manusia, kita kan menyembelih hewan qurban. Agama ini sangat realistis, dia tidak perintahkan untuk mempersembahkan semua bagian dari binatang yang disembelih. Boleh berpikir tentang diri anda, tapi 1/3 untuk anda keluarga, 2/3 dibagi, 2/3 itu 1/3 untuk orang yang butuh, 1/3 untuk orang yang tidak butuh, boleh jadi saudara anda, dalam rangka menjalin hubungan yang lebih harmonis. Itu nilai-nilai dalam berkurban.

Ketika kita bicara idul Adha dan nabi Ibrahim, kita bisa berkata inti yang dikehendaki dari Hari Raya Qurban ini, yang pertama adalah mendidik kita untuk bersedia berkorban. Kita bisa bertanya sekrang, perlukah manusia berkorban? Kenapa kita harus berkorban? Yang pertama, kita manusia adalah satu kesatuan, karena kita tercipta dari unsur yang sama, kita adalah dari kakek yang sama, dari Adam. Jadi manusia itu satu kesatuan, dia harus berjalan seiring untuk mencapai cita-cita kemanusiaan, karena itu Al Quran mengingatkan, siapa yang merusak satu orang, atau melakukan pengerusakan di muka bumi ini, maka dia bagaikan merusak semua orang, karena kita satu kesatuan, kita bersaudara dari keturunan yang sama, dan saudara itu harus kita bantu sebelum dia minta, harus merasakan apa yang dia rasakan.

Kedua, kenapa kita harus berkorban? Kita secara individu orang per orang punya kebutuhan. Saya tidak bisa memenuhi semua kebutuhan saya tanpa anda bantu, begitu juga sebaliknya, kita ini makhluk sosial, tapi kita semua punya ego. Contoh, kita ingin cepat pulang ke rumah, kalau tidak ada yang mau mengalah, bisa tabrakan, jadi saya mau korbankan sedikit atau banyak bukan untuk orang itu, tapi untuk saya, jadi kita harus korbankan. Semakin banyak anda berkorban, semakin lancar lalu lintas. Begitu juga dengan lalu lintas kehidupan, dan korban itulah menyisihkan sebagian dari kepentingan ego untuk orang lain, itulah yang melahirkan akhlak. Boleh jadi anda korban perasaan, saya jengkel sama orang itu, tapi yaudahlah saya tahan. Jadi kepentingan kita mengundang kita untuk berkorban. Jadi dari korban itu yang dinilai Tuhan adalah ketulusan, semakin banyak berkorban dengan ketulusan, semakin tinggi akhlak, semakin sedikit berkorban, semakin sedikit akhlak. Kalau pengorbanan itu sudah tidak ada, akhlak tidak ada, kalau akhlak tidak ada, runtuh masyarkaat. Itu substansinya dari Hari Raya Qurban Kita lihat kurban, kita diminta berkurban demi orang lain, demi masyarakat, yang kembalinya akan kepada kita.

 

Belajar dari Kaum Ad, Tsamud, dan Firaun

Al Quran bercerita, dahulu ada masyarakat Ad, masyarakat Tsamud, dan masyarakat Firaun. Masyarakat Ad itu membangun bangunan yang luar biasa indah, masyarakat Tsamud sangat ahli dalam seni melukis, dan umat firaun itu sangat ahli dalam teknologi, sampai sekarang pembuatan Piramid tidak diketahui. Dalam Al Quran disebutkan:“Tidakkah engkau memperhatikan Tuhanmu memperlakukan kaum Ad, yang membangun bangunan yang tidak ada seperti itu di mana pun? Dan kaum Tsamud yang membelah batu karang dan mengukirnya, dan gunung-gunung untuk menjadi rumah? Dan Firaun dengan piramida-piramida? Mereka melampaui batas dalam kehidupan” Dalam masyarakat mereka, tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mau berkorban, misalnya Firaun yang menindas masyarakatnya. Lalu Allah menghancurkan mereka, menumpahkan mereka dengan siksa. Karena itu, satu masyarakat yang tidak ada akhlaknya pasti runtuh, karena tidak ada yang mau mengalah, kalau orang tidak punya akhlak, krisis dijadikan sarana untuk mendapatkan keuntungan. Jadi bukan lagi menyelesaikan problem tapi mencari keuntungan, ketika itu terjadilah yang dinamakan pakar-pakar, “drama sosial”, orang tidak mau menyelesaikan problem, karena kalau diselesaikan dia tidak dapat untung. Itu sebabnya dikatakan bahwa yang lebih penting daripada pembangunan ekonomi dan pembangunan budaya adalah pembangunan akhlak, dan tidak ada pembangunan akhlak kalau tidak bersedia berkorban. Jadi agama mengatakan cobalah momentum hari raya korban ini dijadikan untuk belajar kesediaan berkorban.

 

Mengapa Allah Memerintahkan Ibrahim Menyembelih Ismail?

KenapaAllah menyuruh nabi Ibrahim menyembelih nabi Ismail tidak langsung menyuruhnya menyembelih domba?

Pertama, Allah Maha Mengetahui, tapi Allah inign menunjukan pada manusia betapa hebat seorang manusia bernama Ibrahim ini, diujiNya Ibrahim dengan ujian yang luar biasa beratnya. Anda bisa bayangkan, anak ditunggu sekian lama, istrinya kan mandul, dapat anak, lahir, sudah besar, harapannya tentu jadi penerusnya, tiba-tiba disuruh sembelih dengan tangannya sendiri, itu puncak dari pengorbanan. Dalam konteks haji itu kita tahu, iblis dating menggodanya, yang pertamauntuk menunjukkan tokoh ini memiliki sifat-sifat yang luar biasa.

Kedua, ada orang-orang yan g berpendapat, menyembelih anak sebagai persembahan pada Tuhan ini terlalu mahal, jangan anaklah, yang lebih murah saja dari anak. Allah bermaksud dengan memerintahkan menyembelih Ismail anak Ibrahim untuk membantah mereka yang berkata tadi, bahwa anak yang paling anda cintaipun kalau Allah yang perintahkan anda harus laksanakan. Setelah Ibrahim AS membuktikan kepatuhannya pada Allah, Allah perintahkan jangan, ganti kambing, maksudnya untuk menunjukkan pada umat manusia seluruhnya, bahwa manusia tidak boleh dikorbankan. Jadi ada dua sisi, pertama apapun kalau Allah perintahkan, walaupun anda sangat cintai, tapi kedua Allah ingin mengatakan jangan korbankan manusia. Jadi sebenarnya dalam ajaran berkorban itu berkorbanlah untuk Allah SWT dan berkorbanlah sesempurna mungkin. Ada yang berkata korbankanlah sifat-sifat kebinatangan yang ada di dalam diri anda.

 

Apa makna pengorbanan dalam Islam?  Sementara pengorbanan itu untuk orang lain, kepentingan kita itu ada di mana?

Banyak yang salah paham, jangan pernah menduga ketika anda memberi anda tidak mendapat sesuatu. Jangan menduga kita mengulurkan tangan anda pada orang, hanya tangan dia yang menyentuh tangan anda, tapi tangan anda juga menyentuh tangannya. Orang kalau memberi sesuatu dengan tulus, itu memberi kepuasan yang luar biasa. Ada teman saya, seorang kaya, bercerita, tidak jarang dia memberi uang berjuta-juta pada orang-orang, tapi pernah suatu ketika dia sedang di jalan, ada orang tua miskin di jalan, lalu dia turun dan dia berikan beberapa ratus ribu pada orang itu. Tapi kemudian, dia bilang dia merasa luar biasa lebih bahagia hatinya memberikan uang beberapa ratus ribu pada orang tua itu daripada biasanya memberi puluhan juta pada orang-orang lain selama ini, mungkin juga selama ini memberikan berjuta-juta pada orang-orang memberinya kurang tulus, dan ada maksud lain.

 

Apakah kita mendekatkan diri pada Allah harus dengan penuh penderitaan atau bagaimana?

Jalan ke neraka itu ringan dan mudah, jalan ke surga itu berat. Anda harus bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, tapi sebenarnya, kita lihat lagi, korban itu, kalau orang tulus,..jangan jauh-jauh, ibu kalau punya anak, terus sakit, kepingin nggak anda yang sakit bukan anak anda? Karena tulus, tidak terasa pengorbanannya. Misalnya lagi, saya kehausan, buka kulkas, mau minum, anak saya dating, terengah-engah minta minum, anak saya yang saya kasih minum atau saya? Anak saya..ada kelezatan rohani, orang mungkin melihatnya menderita, tapi kita tidak merasa seperti itu. Itulah kata Freud, manusia itu mendapatkan kelezatan pada saat menekan dorongannya. Kita perlu ingat kita ini bukan cuma jasmani tapi juga rohani.

 

Kesimpulan

Pertama, Idul Adha atau hari Raya Qurban, tujuannya mengingatkan manusia tentang perlunya berkorban, karena manusia, masyarakat tidak dapat tegak tanpa kesediaan berkorban.

Kedua, korban Idul Adha itu dinamai demikian karena kelembutan hati yang berkorban itu, dan kelembutan hati itu dibuktikan oleh ketulusan yang memberi. Korban adalah manifestasi dari rasa iba anda melihat orang lain. Atau dalam bahasa yang lebih umum “Rahmat”, kasih, sedang agama ini intinya adalah Rahmatan lil Alamin. Rahmat itu keperihan hati yang mendorong yang perih itu setelah melihat ketidakberdayaan orang lain, mendorongnya untuk mengurangi ketidakberdayaan orang lain itu. Dan dorongan itu semakin besar semakin banyak pengorbanan yang bersangkutan, dalam artinya pemberiannya pada orang lain. Tanpa kesediaan berkorban tidak ada aklhak, tanpa akhlak manusia runtuh, karena krisis yang dihadapi masyarakat yang tidak berakhlak, menjadikan mereka menggunakan krisis itu menjauh dari pengorbanan, tapi untuk keuntungan diri sendiri, lahirlah budaya mumpung, mencari kesempatan dari krisis.

Disyariatkanya kurban ini merujuk pada nabi Ibrahim, yang bersedia menuruti perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya sendiri, tapi kemudian Tuhan melarang mengorbankan manusia, walaupun di saat yang sama, manusia harus sadar bahwa tidak ada yang mahal untuk Allah. Ibrahim adalah tokoh yang menghimpun sekian banyak keistimewaan, karena itu ada ibadah haji yang digunakan untuk kita meneladani nabi Ibrahim.

==

Tulisan ini transkrip Tafsir Al Misbah, Mutiara Hikmah Idul Adha, oleh pak Quraish Shihab, yang tayang di MetroTV, 6 November 2011.

Tan Malaka Juga Nggak Percaya DPR!

Siapa yang nggak kenal Tan Malaka? Pasti banyak, terutama generasi yang lahir dan besar di jaman Orde Baru. Tan Malaka adalah sosok yang sangat dekat dengan komunisme, ideologi yang sangat diharamkan oleh penguasa di jaman Orde Baru. Ia pernah menjadi ketua Komunis Internasional di wilayah Asia Timur dan termasuk tokoh terkemuka Partai Komunis Indonesia. Mungkin karena itulah, buku-buku yang ditulis Tan Malaka dan bahkan sosok Tan Malaka sendiri jarang sekali dibahas atau diperkenalkan pada generasi muda di jaman Orde Baru.  Gue yang termasuk generasi yang lahir dan besar di jaman itu juga sama sekali nggak familiar dengan sosok Tan Malaka, sebelum setahun belakangan ini, ketika program acara tempat gue kerja sedikit membahas tentang Tan Malaka, dan sebelum gue beli buku Seri Bapak Bangsa Tempo, yang salah satunya tentang Tan Malaka: Bapak Republik yang Dilupakan.

Ibrahim datuk Tan Malaka adalah pejuang kemerdekaan. Sebenarnya kedekatannya dengan komunisme semata-mata karena ia melihat bahwa ideologi itu dapat membantu negaranya yang terjajah untuk merdeka. Dia memiliki mimpi dan gagasan tentang Indonesia yang merdeka, dan menuliskan gagasan itu sebelum bapak bangsa lain menuliskannya. Bahkan dalam buku ‘Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan’, disebutkan bahwa Tan Malaka adalah tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia:

Tan menulis buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) di tahun 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933). Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia.

Nggak hanya berhenti pada mimpi dan gagasan, Tan Malaka juga aktif memperjuangkan gagasan-gagasannya. Dalam perjalanan memperjuangkan gagasan-gagasannya, Tan Malaka seringkali dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah kolonial, hingga Tan Malaka harus hidup selama bertahun-tahun dengan berpindah-pindah, dalam berbagai penyamaran dan –ketika tertangkap– dalam pembuangan di berbagai daerah, tak hanya di Indonesia tapi juga negara lain, seperti Belanda, Uni Soviet, Jerman, Cina, Filipina, Singapura, Malaysia, dll. Semasa hidupnya Tan Malaka memiliki 23 nama samaran, pernah ditahan di 13 penjara, dan menguasai 8 bahasa.

Sekarang, Republik Indonesia yang diimpikan Tan Malaka sudah merdeka dari penjajah 65 tahun lamanya. Tapi masalah yang dihadapi belum habis, sekarang mungkin bisa dibilang lebih ironis, penjajahnya kali ini adalah orang-orang dari bangsa kita sendiri: pemerintah , pejabat, dan politisi korup. Indonesia adalah negara hukum, semua hal berkaitan dengan penyelenggaraan negara harus dilakukan berdasarkan hukum, karena itu bisa dibilang bahwa hulu dari semua potensi perilaku korup ada di DPR, pihak yang berwenang dalam membuat undang-undang.

gambar:tribunnews.com

Nggak heran kalau semakin lama semakin banyak masyarakat yang skeptis dan bahkan apatis pada apapun yang dilakukan wakil rakyat di DPR, karena Tan Malaka ternyata juga nggak percaya DPR! Dalam negara Republik Indonesia yang diimpikan Tan Malaka, ternyata DPR nggak termasuk dalam elemen sistem pemerintahannya. Berpuluh tahun lalu, Tan Malaka sudah bisa memprediksi akan seperti apa kelakuan orang-orang ditempatkan di parlemen. Tan Malaka yakin bahwa dengan ditempatkan di DPR, wakil rakyat justru akan terkondisikan untuk kesulitan menjalankan perannya dengan baik. Dalam buku Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan, Hasan Nasbi A. menjelaskan sikap Tan Malaka tentang DPR:

Tan Malaka sejatinya tak percaya terhadap parlemen. Bagi Tan Malaka, pembagian kekuasaan yang terdiri atas eksekutif legislatif dan parlemen hanya menghasilkan kerusakan. Pemisahan antara orang yang membuat undang-undang dan yang menjalankan aturan menimbulkan antara aturan dan realitas. (…)

Demokrasi dengan sistem parlemen melakukan ritual pemilihan sekali dalam 4, 5, atau 6 tahun. Dalam kurun waktu demikian lama, mereka sudah menjelma menjadi kelompok sendiri yang sudah berpisah dari masyarakat. Sedangkan kebutuhan dan pikiran rakyat berubah-ubah. Karena para anggota parlemen itu tak bercampur baur lagi dengan rakyat, seharusnya mereka tak berhak lagi disebut sebagai wakil rakyat.

Gambar: wakoranews.co.cc

Konsekuensinya adalah parlemen memiliki kemungkinan sangat besar menghasilkan kebijakan yang hanya menguntungkan golongan yang memiliki modal, jauh dari kepentingan masyarakat yang mereka wakili. Menurut Tan, parlemen dengan sendirinya akan tergoda untuk berselingkuh dengan eksekutif, perusahaan, dan perbankan.

(…)

Akhirnya, parlemen di mata Tan Malaka tak lebih dari sekadar warung tempat orang-orang adu kuat ngobrol. Mereka adalah para jago berbicara dan berbual, bahka kalau perlu sampai urat leher menonjol keluar. Tan Malaka menyebut anggota parlemen sebagai golongan tak berguna yang harus diongkosi negara dengan biaya tinggi.

Kalau kita ingat-ingat lagi perilaku wakil rakyat kita di DPR, pasti sulit rasanya untuk tidak setuju pada apa yang diprediksi Tan Malaka. Kalau begini ceritanya, kira-kira sampai kapan ya bangsa kita terus dijajah oleh bangsa sendiri?

Kadaluarsa Otak dan Pak Rosihan

Akhir 2010 yang lalu, bulan November, gue berkesempatan bertemu dengan legenda pers Indonesia, pak Rosihan Anwar, di rumahnya di Jl Surabaya, Jakarta. Waktu itu, gue menanyakan pak Rosihan tentang pengalamannya mewawancara Jendral Sudirman di tahun 1949. Pada masa itu sedang terjadi ketegangan antara pimpinan sipil dan pimpinan militer, Presiden Sukarno dan Jendral Sudirman. Pemicunya: perbedaan pandangan tentang cara perjuangan. Saat itu pimpinan militer tidak setuju dengan sikap Sukarno-Hatta yang ingin segera melakukan perundingan dengan Belanda.

“Pimpinan tentara, seperti Nasution dan Simatupang, beranggapan belum waktunya berunding. ‘Kita gasak dulu Belanda, dia udah kepayahan ini, supaya posisi perundingan pihak Republik itu kuat, bisa mendikte Belanda.’ Makanya tentara tidak mau berunding, Jendral Sudirman juga gitu pikirannya” Kata Pak Rosihan.

Di bulan Juli 1949, sesaat sebelum terjadinya perundingan Indonesia dengan Belanda mengenai penyerahan kedaulatan Indonesia, Konferensi Meja Bundar, Jendral Sudirman dijemput dari daerah gerilya untuk bergabung bersama Soekarno dan Hatta. Pak Rosihan saat itu ikut menjemput Jendral Sudirman dan sempat mewawancarainya.

“Saya wawancara dia, dia bilang, ‘Ya saya mau balik ke Yogya’, ‘ya kalau gitu saya balik dulu ya bung, mau kirim berita ke Jakarta’, sebab berita Sudirman yang mau bergabung juga ke Yogya dengan Soekarno Hatta, berita yang ditunggu-tunggu juga oleh Belanda di Jakarta” kenang Pak Rosihan.

Presiden Sukarno memeluk Jendral Sudirman, yang baru kembali dari daerah gerilya. Yogyakarta, 9 Juli 1949.

Pak Rosihan menceritakan semuanya dengan detil, seolah semua itu baru aja terjadi kemarin. Padahal waktu itu umur pak Rosihan sudah hampir mencapai 89 tahun!

Saat orang-orang seumurnya udah mulai menunjukkan gejala-gejala penurunan fungsional otak karena usia lanjut, semacam pikun atau demensia, pak Rosihan sama sekali ga menunjukkan tanda-tanda itu. Selain menceritakan dengan cukup detil kejadian-kejadian yang dialaminya puluhan tahun lalu, pak Rosihan juga seperti ga bermasalah mengingat hal-hal baru. Dengan mudah pak Rosihan mengingat nama gue dan kameraman, ketika kami memperkenalkan diri. Beberapa bulan setelah wawancara itu, kami sempat mengundang pak Rosihan ke kantor untuk wawancara di studio. Ketika wawancara selesai dan ia akan pulang, pak Ros bertanya, “Mana Hendrik? Sudah datang belum dia?” Hendrik adalah supir kantor yang menjemput pak Ros dari rumahnya menuju ke kantor, tadi sore. Waw. Sementara, gue dan beberapa teman, yang mungkin umurnya hanya 1/4 umur pak Rosihan, kadang merasa sulit untuk mengingat nama-nama orang yang baru dikenal.

Lebih kontras lagi kalau dibandingkan dengan nenek gue dari pihak ayah, nenek Nurjannah. Beliau tinggal di kampung, di Sumatera Barat. Gue dan keluarga sempat mengunjungi nenek sebulan setelah pertemuan gue dengan pak Rosihan. Terakhir gue ketemu nenek 4 tahun yang lalu, ketika nenek datang ke Jakarta. Ternyata, sekarang kondisi nenek udah jauh berbeda dari terakhir bertemu. Penyakit pikun udah semakin memakan kemampuan memorinya. Sampai-sampai nenek lupa sama papa, anaknya sendiri. Berulang kali nenek bertanya, “Ha, kau siapa?” ke papa, juga ke mama, gue dan adik. Ketika dijelaskan bahwa yang datang anak dan cucu-cucunya, baru ia ingat dan memeluk kami erat-erat. Tapi beberapa menit kemudian, lupa lagi. Sedih banget rasanya ngeliat nenek seperti itu. Padahal umur nenek 3 tahun lebih muda dari umur pak Rosihan saat itu.

“Saya jadi wartawan sudah 67 tahun, saya mengalami jaman Jepang, revolusi kemerdekaan, beberapa jaman dari sesudah perang kemerdekaan” Kata pak Rosihan.

Pak Rosihan menjadi wartawan sejak umur 20-an. Ia pernah menjadi pemimpin redaksi Pedoman yang terbit tahun 1948, koran yang sempat dibredel di jaman presiden Soekarno dan presiden Soeharto. Setelah koran yang dipimpinnya dibredel, pak Rosihan tidak berhenti menulis dan terus mengamati perkembangan yang terjadi di Indonesia. Tulisannya sering dimuat di koran-koran nasional, dan ia juga menulis banyak buku.

Memasuki usia tua, pak Rosihan masih terus menulis. Kadang tulisannya masih muncul di koran-koran nasionalseperti Kompas. Belakangan gue tahu Tabloid Cek n Ricek memberikan kolom khusus untuk pak Rosihan, menulis apapun yang dia mau. Waktu gue berkunjung ke rumahnya untuk wawancara itu, pak Rosihan bercerita kalau saat itu dia sedang menulis memoir yang akan dijadikan buku, tentang Istrinya yang belum lama meninggalkannya. Waktu itu pak Rosihan memang berulang kali menceritakan tentang almarhumah istrinya, betapa sangat sedihnya dia ditinggalkan istri yang sangat dicintainya. “Kamu pasti ga bisa membayangkan Cory, bagaimana beratnya ditinggalkan seseorang setelah puluhan tahun bersama-sama, saya dengan ibu Ros sudah 60 tahun lebih kami menikah..” kata Pak Rosihan waktu itu.

14 April 2011, pak Rosihan meninggalkan kita semua. Padahal satu bulan sebelumnya ia baru saja sukses menjalani operasi jantung. Gue ga tau dan ga mendengar lagi kabar buku memoir istrinya yang tengah ditulisnya, apakah sudah sempat diselesaikannya atau belum..

Pak Rosihan kembali mengingatkan gue betapa pentingnya kebiasaan menulis. Mungkin kebiasaannya itu yang telah menjaga otaknya tetap prima, seakan tak kenal kadaluarsa, saat anggota tubuhnya yang lain mulai melemah termakan usia.

Terima kasih pak Rosihan.

Greetings from New Chick on da Blo(ck/g)!

Setelah melalui pertimbangan yang panjang dan lama (yang sebenarnya nggak perlu-perlu amat) akhirnya saya memutuskan membuka cabang my personal virtual pensieve lagi di WordPress..yaay! Hehe..

Perkenalkan, nama saya Cory, saya warga baru di RW sini, sebelumnya saya di RW sebelah, multiply, karena itu harap maklum kalau virtual pensieve ini masih kopong ya..

Semoga keputusan saya buka cabang dan pindah ke RW sini membawa perubahan baik, saya jadi lebih rajin ngeblog, dan juga apa yang saya tuangkan nantinya senantiasa membawa barokah bagi saya sendiri dan serta semua yg membacanya..amin-amin ya robbal’alamiin.. *ditimpuk berkat kondangan* hehe

Baiklaah..saya tinggal dulu ya,mau liat-liat rumah baru..hmm..let’s see wat i cud do here..