Kadaluarsa Otak dan Pak Rosihan

Akhir 2010 yang lalu, bulan November, gue berkesempatan bertemu dengan legenda pers Indonesia, pak Rosihan Anwar, di rumahnya di Jl Surabaya, Jakarta. Waktu itu, gue menanyakan pak Rosihan tentang pengalamannya mewawancara Jendral Sudirman di tahun 1949. Pada masa itu sedang terjadi ketegangan antara pimpinan sipil dan pimpinan militer, Presiden Sukarno dan Jendral Sudirman. Pemicunya: perbedaan pandangan tentang cara perjuangan. Saat itu pimpinan militer tidak setuju dengan sikap Sukarno-Hatta yang ingin segera melakukan perundingan dengan Belanda.

“Pimpinan tentara, seperti Nasution dan Simatupang, beranggapan belum waktunya berunding. ‘Kita gasak dulu Belanda, dia udah kepayahan ini, supaya posisi perundingan pihak Republik itu kuat, bisa mendikte Belanda.’ Makanya tentara tidak mau berunding, Jendral Sudirman juga gitu pikirannya” Kata Pak Rosihan.

Di bulan Juli 1949, sesaat sebelum terjadinya perundingan Indonesia dengan Belanda mengenai penyerahan kedaulatan Indonesia, Konferensi Meja Bundar, Jendral Sudirman dijemput dari daerah gerilya untuk bergabung bersama Soekarno dan Hatta. Pak Rosihan saat itu ikut menjemput Jendral Sudirman dan sempat mewawancarainya.

“Saya wawancara dia, dia bilang, ‘Ya saya mau balik ke Yogya’, ‘ya kalau gitu saya balik dulu ya bung, mau kirim berita ke Jakarta’, sebab berita Sudirman yang mau bergabung juga ke Yogya dengan Soekarno Hatta, berita yang ditunggu-tunggu juga oleh Belanda di Jakarta” kenang Pak Rosihan.

Presiden Sukarno memeluk Jendral Sudirman, yang baru kembali dari daerah gerilya. Yogyakarta, 9 Juli 1949.

Pak Rosihan menceritakan semuanya dengan detil, seolah semua itu baru aja terjadi kemarin. Padahal waktu itu umur pak Rosihan sudah hampir mencapai 89 tahun!

Saat orang-orang seumurnya udah mulai menunjukkan gejala-gejala penurunan fungsional otak karena usia lanjut, semacam pikun atau demensia, pak Rosihan sama sekali ga menunjukkan tanda-tanda itu. Selain menceritakan dengan cukup detil kejadian-kejadian yang dialaminya puluhan tahun lalu, pak Rosihan juga seperti ga bermasalah mengingat hal-hal baru. Dengan mudah pak Rosihan mengingat nama gue dan kameraman, ketika kami memperkenalkan diri. Beberapa bulan setelah wawancara itu, kami sempat mengundang pak Rosihan ke kantor untuk wawancara di studio. Ketika wawancara selesai dan ia akan pulang, pak Ros bertanya, “Mana Hendrik? Sudah datang belum dia?” Hendrik adalah supir kantor yang menjemput pak Ros dari rumahnya menuju ke kantor, tadi sore. Waw. Sementara, gue dan beberapa teman, yang mungkin umurnya hanya 1/4 umur pak Rosihan, kadang merasa sulit untuk mengingat nama-nama orang yang baru dikenal.

Lebih kontras lagi kalau dibandingkan dengan nenek gue dari pihak ayah, nenek Nurjannah. Beliau tinggal di kampung, di Sumatera Barat. Gue dan keluarga sempat mengunjungi nenek sebulan setelah pertemuan gue dengan pak Rosihan. Terakhir gue ketemu nenek 4 tahun yang lalu, ketika nenek datang ke Jakarta. Ternyata, sekarang kondisi nenek udah jauh berbeda dari terakhir bertemu. Penyakit pikun udah semakin memakan kemampuan memorinya. Sampai-sampai nenek lupa sama papa, anaknya sendiri. Berulang kali nenek bertanya, “Ha, kau siapa?” ke papa, juga ke mama, gue dan adik. Ketika dijelaskan bahwa yang datang anak dan cucu-cucunya, baru ia ingat dan memeluk kami erat-erat. Tapi beberapa menit kemudian, lupa lagi. Sedih banget rasanya ngeliat nenek seperti itu. Padahal umur nenek 3 tahun lebih muda dari umur pak Rosihan saat itu.

“Saya jadi wartawan sudah 67 tahun, saya mengalami jaman Jepang, revolusi kemerdekaan, beberapa jaman dari sesudah perang kemerdekaan” Kata pak Rosihan.

Pak Rosihan menjadi wartawan sejak umur 20-an. Ia pernah menjadi pemimpin redaksi Pedoman yang terbit tahun 1948, koran yang sempat dibredel di jaman presiden Soekarno dan presiden Soeharto. Setelah koran yang dipimpinnya dibredel, pak Rosihan tidak berhenti menulis dan terus mengamati perkembangan yang terjadi di Indonesia. Tulisannya sering dimuat di koran-koran nasional, dan ia juga menulis banyak buku.

Memasuki usia tua, pak Rosihan masih terus menulis. Kadang tulisannya masih muncul di koran-koran nasionalseperti Kompas. Belakangan gue tahu Tabloid Cek n Ricek memberikan kolom khusus untuk pak Rosihan, menulis apapun yang dia mau. Waktu gue berkunjung ke rumahnya untuk wawancara itu, pak Rosihan bercerita kalau saat itu dia sedang menulis memoir yang akan dijadikan buku, tentang Istrinya yang belum lama meninggalkannya. Waktu itu pak Rosihan memang berulang kali menceritakan tentang almarhumah istrinya, betapa sangat sedihnya dia ditinggalkan istri yang sangat dicintainya. “Kamu pasti ga bisa membayangkan Cory, bagaimana beratnya ditinggalkan seseorang setelah puluhan tahun bersama-sama, saya dengan ibu Ros sudah 60 tahun lebih kami menikah..” kata Pak Rosihan waktu itu.

14 April 2011, pak Rosihan meninggalkan kita semua. Padahal satu bulan sebelumnya ia baru saja sukses menjalani operasi jantung. Gue ga tau dan ga mendengar lagi kabar buku memoir istrinya yang tengah ditulisnya, apakah sudah sempat diselesaikannya atau belum..

Pak Rosihan kembali mengingatkan gue betapa pentingnya kebiasaan menulis. Mungkin kebiasaannya itu yang telah menjaga otaknya tetap prima, seakan tak kenal kadaluarsa, saat anggota tubuhnya yang lain mulai melemah termakan usia.

Terima kasih pak Rosihan.

One response to “Kadaluarsa Otak dan Pak Rosihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s