Peradilan Sesat ‘West Memphis Three’

Suatu malam, gue dan adik nonton HBO di TV, ada film dokumenter tentang kasus pembunuhan tragis: tiga anak kecil dibunuh dan kemaluannya dimutilasi. Peristiwa tragis ini terjadi di sebuah kota kecil, West Memphis, Amerika Serikat, di tahun 1993, judul film dokumenter ini: Paradise Lost: The Child Murders at Robin Hood Hills. Tiga remaja kaukasian dari keluarga miskin dijadikan tersangka dari pembunuhan sadis ini, padahal banyak bukti yang nggak kuat dan fakta yang bolong-bolong.

Tersangka utama, Damien Echols, dicurigai karena dianggap aneh, suka pakai baju hitam-hitam, suka dengar musik heavy metal dan punya pandangan dan pemikiran yang eksentrik. Ia dicurigai mempraktekkan ilmu hitam dan melakukan pembunuhan ketiga bocah itu sebagai ritual ilmu hitamnya. Dua tersangka lainnya, Jessie Misskelley, Jr dan Jason Baldwin dicurigai terlibat cuma karena diketahui berteman dengan tersangka utama. Mereka juga dicurigai karena punya catatan kriminalitas kecil: ada yang pernah melakukan vandalisme, ada yang pernah shoplifting, mengutil di supermarket, dan terlibat perkelahian.

Sebagai remaja dari kalangan orang susah, ketiga anak remaja ini memang sempat beberapa kali bermasalah. Mungkin ekspresi pemberontakan mereka dari tekanan hidup sebagai anak dari keluarga miskin atau alasan lain. Ada yang keluarganya sempat beberapa kali didatangi pekerja sosial, dan hampir dibawa ke penampungan anak, karena orangtunya dianggap tak mampu merawat anak mereka, saking miskinnya. Bahkan orangtua kadang tak mampu bayar listrik, hingga beberapa kali listrik harus diputus.

Tersangka utama, Damien Echols memiliki penampilan, pemikiran, dan tingkah laku yang eksentrik. Sebagai anak dari keluarga miskin, kebiasaan Echols cukup unik, ia sering mengunjungi perpustakaan, membaca berbagai buku selama berjam-jam. Di situ ia merasa pikirannya bisa bebas dan lepas dari kesulitan hidup yang ia harus hadapi di dunia nyata. Karena kebiasaannya itu, Ia jadi tahu dan tertarik pada banyak hal, termasuk pada hal-hal yang berbau gothic. Tapi justru karena banyak hal yang ia tahu dan orang di daerah tempat tinggalnya tidak tahu, hal ini menambah kecurigaan orang di kota itu terhadapnya.

Sumber: Wikipedia

Sumber: Wikipedia

Di film dokumenter ini diceritakan kalau ada banyak kejanggalan dalam penanganan kasus pembunuhan tiga bocah ini. Banyak fakta yang diabaikan polisi, seperti laporan saksi adanya penampakan orang kulit hitam mencurigakan, yang berlumuran darah berkeliaran di sebuah restoran sekitar TKP saat kejadian baru berlangsung, tapi laporannya tidak ditindaklanjuti polisi. Ada juga barang bukti penting yang tak sengaja dihilangkan polisi, tapi tidak dibahas lebih lanjut di persidangan. Ada lagi barang bukti helai rambut orang kulit hitam yg ditemui di mayat korban, bekas gigitan di tubuh korban yg struktur giginya nggak sesuai dengan ketiga tersangka, dan ada salah satu bapak tiri bocah korban pembunuhan yang tiba-tiba melakukan rekonstruksi gigi, namun tidak diusut oleh polisi.

Kesaksian yg diberikan para saksi pun terkesan dimanipulasi polisi. Beberapa saksi memberikan kesaksian karena intimidasi, ada yang takut dengan ancaman polisi akan diungkit kasus kriminalitas kecilnya di masa lalu, ada juga yang diancam anaknya bakal diambil pekerja sosial. Kesaksian para saksi yang nggak memberatkan dibilang audionya rusak dan tidak bisa dipakai di persidangan. Metode interogasi polisi pada ketiga tersangka yang masih remaja ini, juga terkesan mengarahkan dan memaksakan fakta, sehingga para tersangka seolah mengakui fakta-fakta yang diarahkan polisi.

Saat persidangan kasus berlangsung, ternyata kepala polisi setempat (kalau nggak salah) sedang menjelang masa pensiun. Mungkin karena takut dianggap gagal kalau nggak berhasil mendapatkan pembunuh dari kasus pembunuhan tragis di daerahnya, sang kepala polisi jadi seperti melakukan apapun demi mendapatkan orang-orang yg bisa dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan sadis tiga bocah di daerahnya, untuk memuaskan rasa keadilan masyarakat.

Persidangan demi persidangan berlalu, ketiga tersangka remaja ini akhirnya semuanya diputus bersalah oleh juri. Untuk kasus pembunuhan sadis yang menewaskan bocah balita tak bersalah, ketiga remaja ini diberikan hukuman berat. Echols, yang diyakini sebagai otak pembunuhan, mendapat hukuman paling berat, ia diganjar hukuman mati. Kedua temannya yang diyakini sebagai kaki tangan, mendapat hukuman penjara seumur hidup.

Ada cuplikan yang mengharukan di film dokumenter ini, setelah vonis hukuman ketiganga diumumkan, salah satu keluarga yang sangat terpukul dengan vonis itu, berkata sambil terisak,

“Kalau keluarga kita kaya pasti hal ini gak akan terjadi pada kita..”.😦

Yang paling miris, ada scene petikan wawancara Echols, sesaat setelah vonisnya dikeluarkan, entah karena putus asa atau apa, ia merespon vonisnya, Echols malah berkomentar,

“Sejak dulu saya selau tahu kalau saya akan dikenal banyak orang. Entah gimana caranya. Tapi saya tahu. Sekarang, saya akan jadi legenda, nama saya akan diingat, anak-anak akan melihat ke bawah tempat tidur mereka sebelum tidur, memastikan tidak ada saya di bawah tempat tidur mereka..”

Meskipun vonis telah dijatuhkan, kasus peradilan sesat ini terus mendapat sorotan publik dan media yang menyadari berbagai kejanggalan di peradilan kasus ini. Film dokumenter Paradise Lost bahkan dibuat sampai yang ketiga. Kasus pun terus bergulir,.banding diajukan dan bukti-bukti baru dikumpulkan untuk membuktikan ketiga terdakwa ini tidak bersalah.

Perjuangan pendamping hukum, publik, dan media massa yang terus mendukung terpenuhinya keadilan bagi ketiga terdakwa korban peradilan sesat ini, tidak sia-sia. Setelah 18 tahun lebih dikurung, dan menjalani persidangan demi persidangan, tahun 2011 ketiga tersangka akhirnya dibebaskan setelah diputuskan mendapatkan Alford Plea di pengadilan.

west-memphis-three-ap

sumber: news.moviefone.ca

Kasus Echols, dkk yang selama belasa tahun terus mendapat sorotan publik, diangkat ke film layar lebar oleh sutradara film terkenal, Peter Jackson, dalam film yang diberi judul ’West of Memphis’. Film ini tayang perdana tahun 2012 di Sundance Film Festival, festival film yang sangat bergengsi. Dalam film ini, sang tokoh utaM cerita, Damien Echols ikut terlibat dalam produksi. Seorang aktor Hollywood ternama, Johny Depp juga mau ikut terlibat dalam film ini. Depp ternyata telah lama mengikuti kasus peradilan sesat Echols dkk, dan menjadi salah satu yang mendukung mereka untuk mendapatkan keadilan. Depp dan Echols pun menjadi sangat dekat seperti sahabat sejak ikut memproduksi film ini, bahkan kabarnya mereka sampai punya matching tattoos.

Kasus Peradilan Sesat Memphis Three juga diangkat lagi dalam film Devil’s Knot. Film ini diangkat dari buku yang ditulis Echols selama belasan tahun dipenjara. Film ini dikabarkan akan dirilis tahun 2013.

Lega dan senang banget rasanya kasus ini berakhir dengan happy ending. :’)

Damien Echols dan Johny Depp

Hm, ternyata cerita peradilan sesat bisa juga terjadi di negara demokrasi seperti Amerika Serikat ya, bukan cuma di negara berkembang, yang masih belum lama mencicipi demokrasi seperti Indonesia. Peradilan sesat seperti Kasus West Memphis Three bukan hal yang asing di Indonesia. Banyak kasus peradilan sesat di Indonesia yang punya kemiripan West Memphis Three. Seperti kasus Sengkon dan Karta, dua petani miskin yg dipaksa dan disiksa polisi supaya mengaku sebagai pelaku kasus perampokan dan pembunuhan di tahun 70-an. Keduanya dipenjara cukup lama hingga sakit-sakitan di dalam penjara. Kebenaran terungkap ketika sang pelaku yang sesungguhnya, ternyata berada di oenjara yang sama dengan Sengkon dan Karta, dipenjara karena kasus lain. Mungkin karena iba dan dihantui rasa bersalah, melihat dua orang tak bersalah menderita akibat perbuatan yang dilakuknnya, secara ajaib, sang pelaku mengakui sendiri bahwa ialah yang bertanggung jawab atas kriminalitas yang dituduhkan pada Sengkon – Karta.

Ada juga kasus Pakde (lupa), guru spiritual yang dituduh bunuh muridnya,  Dietje, peragawati cantik yg terkenal tahun 80-an. Saya pernah mewawancara wartawan Tempo yang dulu mengawal kasus ini, dan ia mengakui bahwa banyak kejanggalan dalam penanganan kasus kematian Dietje. Seperti, saat kejadian berlangsung, banyak saksi mata yang melihat Pakde sedang berada di rumahnya, yang kebetulan sedang mengadakan Lek-lekan, semacam Kenduri. Tapi hal ini diabaikan di pengadilan. Kasus Pakde tidak berakhir happy ending seperti kasus Danien Echols dkk. Hingga akhir hayatnya Pakde tidak mendapatkan keadilan, dan pembunuh Dietje yang sesungguhnya tidak perna terungkap. Saya sempat menelusuri keluarga Pakde untuk meminta komentar merea atas peradilan sesat yang terjadi pada orangtua mereka. Namun mereka menolak berkomentar, dan tidak lagi memperjuangkan keadilan untuk almarhum ayahnya. Salah satu anak Pakde bercerita, saat penyidikan, salah satu anak Pakde sempat ditangkap dan mengalami kekerasan. Hingga saat itu, mereka masih menyimpan trauma dan tidak ingin kasus ini diungkit lagi.

Kesamaan dari kasus-kasus ini adalah semua korban peradilan sesat berasal dari kalangan miskin yang nggak berdaya melawan ketidakadilan, suara mereka nggak bisa didengar. Mereka nggak punya uang untuk membayar pendamping hukum yang bisa membela mereka untuk mendapatkan keadilan.

Di kasus-kasus seperti ini, menurut saya, setidaknya ada dua pihak yang bisa menjadi penolong dan memberikan sedikit harapan pada korban-korban peradilan sesat untuk mendapatkan keadilan: Pembela hukum pro bono (cuma-cuma, gratis) yang masih punya nurani dan kemampuan berpikir kritis, mereka bisa sangat membantu mengurai benang kusut fakta ketidakadilan; dan wartawan, untuk membantu menyiarkan cerita dengan sudut pandang yg lebih kritis ke masyarakat luas.

Kalau sekarang, mungkin keadaannya bisa sedikit lebih baik. Dengan perkembangan teknologi informasi, lewat internet dan media sosial, cerita tragis ketidakadilan bisa menyebar dengan cepat dan menggalang bola salju kemarahan masyarakat yang berempati, yang terkadang bisa cukup kuat untuk menggerakkan pemerintah atau siapapun yg bertanggung jawab untuk memenuhi hak keadilan. People power, yang digalang media sosial internet juga media massa. Sekarang semua orang yang peduli bisa menjadi mata dan corong menyuarakan ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka. Yang diperlukan, cuma sedikit kepedulian.

Semoga semakin banyak masyarakat yang mau peduli, semakin banyak aparat yang punya malu dan hati nurani, semakin berat hukum bagi aparat hukum yang dengan sengaja menyebabkan peradilan sesat, dan semakin banyak aparat hukum yang sadar kalau prestasi bukan cuma diukur dari seberapa banyak perkara yang bisa mereka selesaikan dan mendapatkan terdakwa, tapi dari seberapa besar mereka bisa menegakkan hukum dan keadilan bagi semua. Semoga.

“Injustice anywhere is a threat for justice everywhere.”  -Marthin Luther King, Jr

6 responses to “Peradilan Sesat ‘West Memphis Three’

  1. Keren mba reviewnya…baru liat devil’s knot dan lgsg googling,dpt blognya mba cory, sangat2 menyenangkan😀

  2. Keren mba reviewnya…
    Sedih tp kematian anak2nya.
    Baru liat devil’s knot, googling & dpt blognya mba cory, sangat2 menyenangkan.

      • Ini baru selesai di fox movies premium…ntn sambil googling masing2 terdakwanya hoho…pemilihan pemainnya mirip bgt. Tnyata kasusnya msh jln smpe skrg ya. Kayanya ayahnya stevie terlibat deh (sok csi hehehe)
        Tp tulisan mba yg menyertakan kasus di indonesia ini menyadarkan jg,semoga ke depannya hukum ga dimain2in..

  3. Habis nonton devil’s knot di HBO,, penasaran mengenai keadilan utk anak2 remaja itu,masih penasaran apa setelah keluar dari penjara mereka bisa diterima masyarakat gak yah hehehe
    Senang sekali bisa dapat blog yg review film ini yg digali sampai keakar2nya..
    Terima kasih tulisan kerennya mba cory,,

  4. Saya baru nonton filmnya tadi dan heran, ini film yg ada aktornya (fiksi) atau film bersasarkan kisah nyata? Saya lsg Cek di Google, ternyata film dokumenter.
    Saya sempat penasaran kenapa pria hitam yg disebutkan di restoran tidak ditanggapi, bner2 janggal peradilan sesat.
    Setahu saya sampai skrg tidak ada yang tau siapa prmbunuh sadis yg menghabisi tiga anak yg tak bersalah, tapi menurut pandangan ane sih pelaku sebenarnya si orang hitam yg ditemuin di restoran atau ayah tiri anak yg dibunuh, karena pada tubuh korban ada bekas Gigi dan rambut, ya ini masih hipotesa.
    Makasih gan udah share nih.
    Sukses selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s