Spending Consciously, Membelanjakan Uang dengan Sadar

Pernah nggak merasa uang yang kita miliki habis tanpa terasa? “Perasaan gue ga beli apa-apa deh, kok uang kayanya abis gitu aja ya..” Pernah nggak mengalami, setelah naik gaji, uang tetap terasa kurang? Padahal sebelumnya dengan gaji yang lebih sedikit, kebutuhan jg bisa terpenuhi, dan idup-idup aja kok, ga sampe kelaperan atau gimana..

Terus terang, gue sering merasa seperti itu. Tapi ada satu cerita seorang teman yg gue ingat, dia curhat tentang masalah seperti ini. Dia merasa uangnya habis begitu aja, padahal gajinya cukup besar untuk seorang yg belum menikah lebih besar dari gaji gue saat itu, belum punya tanggungan dan masih tinggal dengan orangtua, nggak perlu ngeluarin uang untuk bayar kosan, seperti gue saat itu. Ongkos transportasinya juga minim, karena dia sering naik antar jemput kantor atau diantar orangtua ke kantor. Urusan makan pun, paling hanya keluar uang untuk makan selama di kantor. Dia juga merasa nggak membeli apapun yg signifikan atau mahal. Ke mana larinya uangnya?

Ada pendapat yg mengatakan, gaya hidup seseorang akan naik begitu penghasilan bertambah. Sesuatu yg tadinya tdk terpikir untuk dibeli, atau pake pertimbangan untuk dibeli, jadi tanpa sadar dengan ringan dibeli karena merasa ada uang lebih. Ada juga pendapat yg bilang kalo sebesar apapun penghasilan seseorang, akan selalu terasa kurang, kalau nggak dikelola dengan baik. Mau dapet berapa banyak juga bisa habis gitu aja, kl ngeluarin uang suka-sukanya.

Spending consciously, membelanjakan atau mengeluarkan uang dengan sadar, bisa dibilang ini kuncinya. Banyak dari kita yg terkadang nggak sadar ke mana saja uang kita mengalir, untuk dibelanjakan apa saja uang kita digunakan. Kita sering nggak sadar mengeluarkan uang untuk kebutuhan atau keinginan yg belum tentu penting dan esensial. Kita sering nggak sadar mengeluarkan uang, ketika kita anggap uang yg kita belanjakan jumlahnya hanya kecil dan nggak seberapa.

Setahun atau dua tahun lalu, ada movement di twitter yang dilakukan seorang financial planner, atau perencana keuangan, Ligwina Hananto. Dia memberikan tantangan pada followernya di twitter untuk mencatat setiap pengeluaran yang dilakukan, setiap hari, selama sebulan (atau beberapa bulan). Lalu setiap sebulan, dievaluasi, pengeluaran dibagi jadi beberapa pengkategorian pos, dan dilihat, ke mana saja uang mengalir. Dengan cara ini, perencana keuangan ini mau mengajak orang untuk lebih sadar ketika mengeluarkan uang dan jadi tau di mana kebocoran-kebocoran yg tidak disadari selama ini.

Gue pernah mencoba hal ini, tapi setelah beberapa bulan masih tetap suka merasa uang habis begitu aja. Tapi memang ada kesalahan yg gue lakukan, yaitu cuma berhenti di step mencatat pengeluaran, dan nggak melakukan evaluasi, merangkum pengeluaran dan melihat ke pos mana saja uang mengalir. Waktu itu gue kurang mencermati petunjuk si perencana keuangan tentang apa lagi langkah yg harus dilakukan untuk evaluasi. Gue terlalu malas untuk mencermati satu demi satu pengeluaran dan memasukannya lagi ke pos-pos kategori pengeluaran. Karena menurut gue terlalu ribet.

Kemudian gue sadar, kalau cara seperti itu sama aja kayak buang sampah di satu tempat, baru dipilah-pilah lagi sesuai dengan jenisnya, organik atau non organik, botol kaca, plastik atau sampah dapur. Ya iyalah ribet. Kerja dua kali. Akan lebih gampang kalau dari awal sudah ditaro sesuai dengan tempatnya. Ribet sedikit di awal, mikirin gimana nyediain tempatnya, apa aja pengkategoriannya, tapi kemudian lebih mudah pada akhirnya.

Akhirnya gue mulai mencoba menerapkan, bukan cuma mencatat setiap pengeluaran setiap hari, tapi juga mulai membuat kategori pos-pos apa saja tempat uang akan ‘dibuang’. Untuk memangkas rasa males ribet, pencatatan ga perlu rapi-rapi ditulis di buku khusus atau di microsoft excel di komputer. Cukup di hp aja yg lebih praktis dan selalu dibawa ke mana-mana.

Seperti yg sering diingatkan banyak perencana keuangan, pertama-tama yang harus kita ingat adalah pos pengeluaran rutin dan wajib, seperti kebutuhan makan, transport sehari-hari, dan utang, cicilan-cicilan. First thing first. Baru kemudian hal-hal lain, seperti keperluan rekreasional, shopping, nongkrong, traveling, kado-kado ulangtahun org terdekat, dll. Tapi lebih bagus lagi kalau kita mengalokasikan uang utk ditabung rutin sebelum dipake utk kepentingan rekreasional. Dari situ kita jadi bisa sadar, ke mana aja uang kita mengalir, dan berapa sebenarnya sisa uang yg aman untuk kita pakai dengan suka-suka.

Misalnya:
Karyawan belum nikah, masih tinggal dengan keluarga, dengan Gaji 5.000/bulan.

Pengeluaran rutin/bulan
(Makan 20×3 kali=60) + (transport pp: 40)= 100 x 22 hari kerja = 2.200

Utang
Cicilan2: 500

Tabungan/Investasi: 500

Pengeluaran week end: 200 x 4 minggu = 800

Sampai di sini, sisa uang tinggal 1.000. Biasanya pengeluaran lain yg  suka luput diingat padahal porsinya cukup besar itu adalah kado ulangtahun untuk orang terdekat dan angpau untuk nikahan teman atau saudara, karena itu sebaiknya dialokasikan juga, sesuai keikhlasan. Kalau gue, supaya lebih jelas, gue pisahin antara kado utk org terdekat dan kado/angpau tak terduga.

Misalnya kita budgetin 500 utk kado-kado dan angpau. 200 utk kalo-kalo ada undangan ke pernikahan atau diajak patungan beli kado teman. Dan 300 untuk kado orang terdekat. Kalau ada 6 org terdekat yg pasti dikasih kado setiap tahun, berarti tiap bulan 300/6=50 per orang tiap bulan. Ulangtahun itu kan setaun sekali, berarti budget untuk harga kadonya 50×12=600 per orang.

Nah, sampai di sini kan sisa uangnya tinggal 500. Terserah deh, mau untuk apa. Mau semuanya dihabiskan untuk dipakai suka-suka, nambahin uang nongkrong, buat ke salon atau ke bengkel, beli baju, atau tas, sepatu atau sebagian dikasih buat orangtua, disisihkan untuk nabung buat traveling, terserah. Tapi intinya kita jadi tau, berapa uang yg bisa aman dipake tanpa mikir dan tidak mengorbankan pos lain yg lebih urgent. Oh iya, jangan lupa sisihin 2.5% untuk zakat, biar barokah :p

Penghematan dari pengeluaran rutin perhari juga bisa tuh, dipake suka-suka untuk apapun.

Kalau ada insentif, bonus, atau rejeki tambahan yang jumlahnya ga pasti setiap bulan, baru deh bisa dipake lagi, buat apa juga terserah. Mau diabisin semua buat makanan minuman dan nongkrong, beli kebutuhan fashion, beli gadget, sisihin sebagian utk tabungan investasi, nambah-nambah budget kado, terserah, yang penting, sekali lagi, pos pengeluaran rutin dan wajib udah aman. Atau bisa juga dibikin lagi presentasenya, misalnya dari bonus atau insentif sebulan, 30% untuk kasih ke bokap nyokap, 20% ditabung, 50% untuk dipake beli apapun yg kita mau, dll.

Kalo ada kebocoran-kebocoran pengeluaran, kita jadi bisa lebih sadar. Oh ternyata karena uang transport membengkak lagi sering naik taksi atau ojek ke mana-mana. Oh, lg kebanyakan nongkrong di caffee dan eating out di resto atau jalan-jalan di mal sama temen-temen, oh abis tergoda dg big sale di mal, uangnya jd barang ini dan ini. Oh, emang banyak yg harus dikasih kado atau angpau nikahan, dll. Oh ternyata ada yg minjem duit (kl yg ini kayaknya jarang ada yg lupa sih ya :p). Kalau udah gini kan bisa lebih membantu kita untuk spending consciously, bisa lebih sadar membelanjakan uang setiap kita bertransaksi. Jadi kita bisa antisipasi menutup kebocoran dari pengeluaran-pengekuaran yg nggak perlu. Jadi seumur-umur kita ga akan dihantui rasa penasaran, ilang ke mana aja sih uang kita selama ini..

*Untuk kategori pos-pos pengeluarannya nggak ajeg dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan minat masing-masing

*Kalau ada yg mau share metode pengelolaan keuangan pribadinya, i’d love to hear, barangkali ada cara yg lebih simpel dan efektif yg bisa saya contek :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s